Share PDF

Search documents:
  Report this document  
    Download as PDF   
      Share on Facebook

Keterangan gambar :

1.Sinar datang sejajar sumbu utama dipantulkan melalui titik fokus

2.Sinar datang menuju titik verteks dipantulkan dengan sudut sama besar dengan sudut datang

3.Sinar datang melalui pusat kelengkungan C dipantulkan kembali dengan lintasan sama

4.Sinar datang melalui titik fokus dipantulkan sejajar sumbu utama

∑Cermin Cekung (konkaf)

Cermin cekung bersifat mengumpulkan sinar. Sifat bayangan yang terbentuk pada cermin cekung tergantung letak atau jarak benda terhadap cermin.

 

 

 

 

 

 

 

 

Letak Benda

 

Letak Bayangan

 

Sifat Bayangan

 

 

R1 (s < f)

 

R4

 

Maya, Tegak, diperbesar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Titik f (s = f)

 

-

 

Tidak terjadi bayangan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

R2 ( f < s < M)

 

R3

 

Nyata, terbalik, diperbesar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Titik M (s = M)

 

Titik M

 

Nyata, terbalik, sama besar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

R3 (s > M)

 

R2

 

Nyata, terbalik, diperkecil

 

 

 

 

 

 

 

 

keterangan tabel : s = Jarak objek (So)

f = Titik fokus atau titik api

M = 2x f, (bisa juga dilambangkan dengan "C" atau "R")

R1,2,3,4 = Ruang yang ditempati objek, R.benda + R.bayangan = 5

CERMIN CEMBUNG

Untuk melukis pembentukan bayangan pada cermin cembung, dapat dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut:

1.Lukis dua buah sinar istimewa (menggunakan sinar datang sejajar dengan sumbu utama yang akan dipantulkan seolah-olah datangnya dari fokus (F) dan sinar yang menuju titik pusat kelengkungan P yang akan dipantulkan kembali seolah-olah bersumber dari P).

Secara umum setiap sinar datang yang mengenai cermin cembung menggunakan aturan Hukum Snellius dengan menunjukkan setiap titik pantulnya sesuai dengan garis normalnya.

2.Sinar datang dari depan cermin dan dipantulkan kembali ke depan, perpanjangan sinar- sinar di belakang cermin dilukis sebagai garis putus-putus. Lukisan garis putus-putus menyatakan bahwa sinar seolah-olah berasal dari titik tertentu yang akan menggambarkan bayangan semu.

3.Perpotongan kedua buah sinar pantul yang dilukis pada langkah 1 merupakan titik bayangan, karena titik perpotongan sinar tersebut yang akan menunjukkan bahwa bayangan akan terbentuk. Jika perpotongan didapat dari sinar pantul terjadi bayangan nyata (sejati), karena titik perpotongan yang terbentuk terletak di daerah bayangan nyata di depan cermin. Akan tetapi jika perpotongan didapat dari perpanjangan sinar pantul, bayangan yang dihasilkan adalah maya (semu), karena titip perpotongan terletak di daerah bayangan semu di belakang cermin.

Hendrajaya, et al. (1983) mendefinisikan pengertian benda/bayangan nyata dan maya sebagai berikut:

Benda nyata Benda maya

Bayangan nyata

Bayangan maya

:Jika sinar datang divergen pada permukaan pembias (s > 0).

:Jika sinar datang konvergen pada permukaan (s < 0)

:Jika sinar datang konvergen dari permukaan pembias (s’ > 0) berpotongan.

Jika sinar datang divergen dari permukaan pembias seakan-akan datang

:dari sebuah titik di pihak lain dari permukaan (s’ < 0).

Sifat-sifat Bayangan pada Pencerminan Permukaan Sferis

 

 

 

 

 

 

 

S

 

S’

 

Cermin Cembung

 

 

 

 

 

 

 

R I

 

R IV

 

Sejati, tegak, diperbesar

 

R II

 

R III

 

Maya, terbalik, diperbesar

 

R III

 

R II

 

Maya, terbalik, diperkecil

 

R IV

 

R I

 

Maya, tegak, diperkecil

 

 

 

 

 

 

Hubungan antara jarak benda (s), jarak bayangan s' dan fokus

atau

catatan :

∑R dan f bertanda positif untuk cermin cekung

∑R dan f bertanda negatif untuk cermin cembung

Perbesaran bayangan pada pemantulan ini berlaku:

SIFAT BAYANGAN CERMIN DATAR

1.Bayangan yang terjadi sama besar dengan benda.

2.Bayangan yang terjadi sama tegak.

3.Jarak benda sama dengan jarak bayangan

4.Bayangan cermin tertukar sisinya, artinya bagian kanan benda menjadi bagian kirinya.

5.Bayangan cermin merupakan bayangan semu, artinya bayangan tidak dapat ditangkap oleh layar.

6.MAYA

Hukum

pemantulan

cahaya

menurut

Snellius

adalah

sebagai

berikut

:

1. Sinar

datang,

garis normal

dan

sinar pantul

terletak

pada

bidang

datar

2. Sudut datang (i) sama dengan sudut pantul (r)

 

 

 

 

 

Pembentukan bayangan oleh cermin datar adalah dibentuk oleh perpotongan perpanjangan dari sinar- sinar pantul.

Proses pembentukan bayangan :

1.Benda di depan cermin datar.

2.Berlaku hukum pemantulan.

3.Sinar datang pertama (biru muda) melalui ujung benda dan mengenai cermin, akan dipantulkan oleh cermin, sinar pantul diperpanjang putus-putus (biru muda).

4.Sinar datang kedua (merah) melalui ujung benda dan mengenai cermin, akan dipantulkan oleh cermin, sinar pantul diperpanjang putus-putus (merah).

5.Perpotongan perpanjangan sinar pantul pertama dan kedua (biru muda dan merah putus-putus) berpotongan, dan itu merupakan bayangan ujung benda.

6.Sinar ke tiga (kuning) melalui pangkal benda dan mengenai cermin, akan dipantulkan oleh cermin, sinar pantul diperpanjang putus-putus (kuning), merupakan bayangan pangkal benda.

7.Terbentuklah bayangan benda oleh cermin datar.

Untuk mendapatkan seluruh bayangan benda pada cermin datar, kita harus menggunakan cermin yang panjangnya minimal ½ dari tinggi bendanya.

Macam2 klasifikasi MH

1. Sistem artifisial / buatan

Sistem yang mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri yang ditetapkan oleh peneliti sendiri, misalnya, ukuran, bentuk, dan habitat makhluk hidup. Penganut sistem ini di antaranya Aristoteles dan Theophratus (370 SM).

2. Sistem natural / alami

Sistem yang mengelompokkan makhluk hidup berdasarkan persamaan ciri struktur tubuh eksternal (morfologi) dan struktur tubuh internal (anatomi) secara alamiah. Penganut sistem ini, di antaranya, Carolus Linnaeus (abad ke-18). Linnaeus berpendapat bahwa setiap tipe makhluk hidup mempunyai bentuk yang berbeda. Oleh karena itu, jika sejumlah makhluk hidup memiliki sejumlah ciri yang sama, berarti makhluk hidup tersebut sama spesiesnya. Dengan cara ini, Linnaeus dapat mengenal 10.000 jenis tanaman dan 4.000 jenis hewan.

3. Sistem modern (filogenetik)

Sistem klasifikasi makhluk hidup berdasarkan pada hubungan kekerabatan secara evolusioner.

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas: Commelinidae Ordo: Poales

Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan) Genus: Oryza

Spesies: Oryza sativa L.

Klasifikasi

Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas: Rosidae

Ordo: Sapindales

Famili: Anacardiaceae

Genus: Mangifera

Spesies: Mangifera indica L.

ORANGUTAN

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Mamalia

Ordo: Primata

Famili: Hominidae

Upafamili: Ponginae

Elliot, 1912

Genus:

Pongo

 

Lacépède, 179

KERA

 

Kerajaan:

Animalia

Filum:

Chordata

Kelas:

Mammalia

Ordo:

Primata

Upaordo:

Haplorrhini

Parvordo:

Catarrhini

Superfamili: Hominoidea

Bentuk akar

2. Bentuk sumsum atau pola tulang daun

- Monokotil : Memiliki sistem akar serabut

- Monokotil : Melengkung atau sejajar

- Dikotil : Memiliki sistem akar tunggang

- Dikotil : Menyirip atau menjari

3. Kaliptrogen / tudung akar

-Monokotil : Ada tudung akar / kaliptra

-Dikotil : Tidak terdapat ada tudung akar

4.Jumlah keping biji atau kotiledon

- Monokotil : satu buah keping biji saja - Dikotil : Ada dua buah keping biji

5.Kandungan akar dan batang

-Monokotil : Tidak terdapat kambium

-Dikotil : Ada kambium

6. Jumlah kelopak bunga

-Monokotil : Umumnya adalah kelipatan tiga

-Dikotil : Biasanya kelipatan empat atau lima

7. Pelindung akar dan batang lembaga

-Monokotil : Ditemukan batang lembaga / koleoptil dan akar lembaga / keleorhiza

-Dikotil : Tidak ada pelindung koleorhiza maupun koleoptil

8. Pertumbuhan akar dan batang

-Monokotil : Tidak bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

-Dikotil : Bisa tumbuh berkembang menjadi membesar

PROSES PENCERNAAN MANUSIA

1.Kerongkongan (Esofagus)

Kerongkongan merupakan saluran panjang (± 25 cm) yang tipis sebagai jalan bolus dari mulut menuju ke lambung. Fungsi

kerongkongan ini sebagai jalan bolus dari mulut menuju lambung. Bagian dalam kerongkongan senantiasa basah oleh cairan

yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar yang terdapat pada dinding kerongkongan untuk menjaga agar bolus menjadi basah dan licin. Keadaan ini akan mempermudah bolus bergerak melalui

kerongkongan menuju ke lambung. Bergeraknya bolus dari mulut ke lambung melalui kerongkongan disebabkan adanya gerak

peristaltik pada otot dinding kerongkongan.

Gerak peristaltik dapat terjadi karena adanya kontraksi otot secara bergantian pada lapisan otot yang tersusun secara me-

manjang dan melingkar. Proses gerak bolus di dalam kerongkongan menuju lambung

4.Usus halus

Getah usus mengandung enzim-enzim seperti berikut.

1)Sukrase, berfungsi membantu mempercepat proses pe- mecahan sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.

2)Maltase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan maltosa menjadi dua molekul glukosa.

3)Laktase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.

4)Enzim peptidase, berfungsi membantu mempercepat proses pemecahan peptida menjadi asam amino.

1. MULUT

Di dalam mulut makanan dihancurkan oleh gigi-gigi menjadi ukuran yang lebih kecil dengan tujuan proses pencernaan akan lebih mudah. Saat dikunyah makanan bercampur air liur yang mengandung enzim ptyalin. Karbohidrat yang masih berupa polisakarida dipecah menjadi disakarida yaitu maltosa dan polimer glukosa kecil lainnya. Proses ini hanya sebagian kecil saja karena makanan akan ditelan dan dalam lambung enzim ini menjadi tidak aktif.

Esofagus

Tdak ada proses khusus pencernaan makanan disini. Makanan melewati saluran dalam esofagus dengan sangat mudah dalam hitungan detik. Dinding saluran esofagus sangat licin karena mengandung cairan mucus yang dihasilkan sel-sel yang terdapat di dindingnya

2. KERONGKONGAN ( ADA DIATASNYA )

3. Lambung

Proses yang sangat penting dalam lambung adalah barcampurnya makanan dengan getah lambung yang bersifat asam. Disini juga terjadi proses pencampuran makanan oleh gerakan kontraksi lambung. Proses pencampuran dengan asam lambung mengakibatkan makanan menjadi lebih cair dan hancur disebut dengan chymus.

Pepsin dari lambung memulai pencernaan protein. Enzim ini bekerja dengan baik karena sifat keasaman dari lambung. Pencernaan pepsin di lambung ini hanya sekitar 10-30% dari pencernaan total protein. Pepsin mempunyai kemampuan mencerna kolagen yang merupakan unsur utama dari jaringan penyambung interseluler daging. Proses ini penting untuk memudahkan proses pencernaan protein selanjutnya.

Tidak ada proses pencernaan khusus dari karbohidrat. Sedangkan pencernaan lemak di lambung hanya proses minimal oleh enzim lipase lidah yang berasal dari kelenjar di bawah lidah.

4. Usus Halus

Di dalam usus halus inilah proses pencernaan dan absorbsi atau penyerapan zat-zat makanan sebagian besar berlangsung.

Proses pencernaan karbohidrat dilanjutkan kembali disini. Pokok dari pencernaan karbohidrat adalah memecah molekul karbohidrat menjadi monosakarida (glukosa, galaktosa, fruktosa) yang bisa diserap usus masuk ke peredaran darah. Tugas ini dilaksanakan oleh enzim yang dihasilkan oleh pankreas yaitu alfa amylase, maltase, lactase, sukrase, glukosidase dan alfa dekstrinaase.

5. Usus Besar

Pencernaan zat makanan untuk kebutuhan absorbsi sudah tidak ada lagi dalam usus besar. Yang ada hanya penyerapan air dan elektrolit untuk memadatkan chymus yang masih dalam bentuk cair. Chymus dalam usus besar berupa bahan-bahan yang tidak dapat diserap di usus halus misalnya selulosa dari tumbuhan yang nantinya akan memberikan bentuk feces (tinja) dan dibuang melalui anus.

Dalam usus besar terdapat bakteri yang dapat mencernakan sebagian kecil selulosa untuk nutrisi bakteri itu sendiri. Aktivitas bakteri ini membentuk beberapa vitamin K, B12, tiamin, riboflavin dan gas-gas karbondioksida, hidrogen dan metana. Vitamin K sangat penting dalam proses pembekuan darah dan hanya ada dalam jumlah yang sedikit dalam makanan kita. Chymus makin ke arah anus makin padat dan dikeluarkan sebagai feces melalui proses defekasi (buang air besar).

Peredaran darah manusia dibedakan menjadi 2, yaitu peredaran darah besar (sistematik) dan peredaran darah kecil (pulmonari).

1. Peredaran Darah Pulmonari

Darah miskin oksigen dari seluruh bagian tubuh terkumpul di serambi kanan, kemudian di alirkan ke bilik kanan. Bilik kanan akan memompa darah ke dalam batang paru-paru . Saat darah mengalir melalui kapiler paru-paru, karbon dioksida dilepaskan dan oksigen diikat. Darah kaya oksigen kembali ke serambi kiri melalui venula paru-paru yang bergabung membentuk vena

paru-paru. secara garis besar, urutan peredaran darah pulmonari adalah ventrikel kanan (bilik kanan) → arteri pulmonalis → paru-paru → vena pulmonalis → atrium kiri (serambi kiri) .

2.Peredaran Darah Sistematik

Darah kaya oksigen dari serambi kiri masuk ke bilik kiri. Saat bilik kontraksi, darah menuju aorta. Kemudian darah menuju cabang aorta, lalu ke jaringan, setelah itu ke vena dan vena kava lalu kembali lagi ke jantung di serambi kanan. Urutan peredaran darah sistematik adalah ventrikel kiri (bilik kiri) → aorta → arteri → arteriola → kapiler → venula → vena → vena kava superior → vena kava inferior → atrium kanan (serambi kanan)

Setiap magnet mempunyai sifat (ciri) sebagai berikut :

(1)dapat menarik benda logam tertentu.

(2)gaya tarik terbesar berada di kutubnya.

(3)selalu menunjukkan arah utara dan selatan bila digantung bebas.

(4)memiliki dua kutub.

(5)tarik menarik bila tak sejenis.

(6)tolak menolak bila sejenis.

Cara membuat magnet ada beberapa macam antara lain :

∑Dengan cara induksi, Cara ini meletakan benda dengan didekatkan benda magnetik pada megnet. Misalnya : paku yang ditempelkan pada megnet dan dibiarkan beberapa saat akan dapat menarik jarum yang ada didekatnya karena paku tersebut menjadi bersifat seperti magnet.

∑Dengan menggosok, Cara ini dengan menggosok-gosokan besi atau baja pada magnet secara searah. Semakin banyak gosokan yang dilakukan semakin kuat kemagnetan besi atau baja tersebut.

∑Dengan cara elektromagnetik, Untuk membuat elektromagnetik dengan cara melilitkan kawat email yang di aliri arus listrik pada batang besi. Semakin banyak lilitan kawat semakin kuat sifat kemagnetannya.

Dalam kehidupan sehari-hari gaya magnet digunakan untuk berbagai keperluan seperti mengambil benda-benda dari logam, penunjuk arah, mengubah energi listrik menjadi energi bunyi, menghasilkan listrik, menggantikan roda pada kereta api maglev, dan merapatkan dua benda.