Share PDF

Search documents:
  Report this document  
    Download as PDF   
      Share on Facebook

STATISTIKA DESKRIPTIF TERHADAP SUHU DI KOTA BANDUNG

YANG DIPENGARUHI OLEH PENYERAPAN RADIASI MATAHARI

PADA JUNI 1996

 

DISUSUN OLEH :

 

Imam Muttaqin

(12811022)

Gisma Aminurah Firdaus

(12811030)

Anggun Pratami

(12811032)

PROGRAM STUDI METEOROLOGI

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2013

I.PENDAHULUAN

Meteorologi adalah ilmu yang mempelajari tentang keadaan atmosfer (cuaca) gejala fisis dan dinamisnya serta fenomena-fenomena yang berkaitan dengan cuaca. Ilmu ini merupakan salah satu cabang ilmu dari Geofisika yang mempelajari tentang bumi secara keseluruhan. Meteorologi mempelajari atmosfer dari permukaan sampai dengan ketinggian tropopause, karena pada level ini merupakan batas dari gejala/fenomena cuaca. Terkait dengan pembelajaran atmosfer secara vertical, untuk mempelajari meteorologi maka diperlukan observasi cuaca secara global, ini terkait dengan sifat atmosfer yang sifatnya fluida sehingga mempengaruhi dengan sekitarnya. Namun dalam prakteknya tentu sifat atmosfer ditiap tempat memiliki keunikan yang berbeda- beda, sehingga diperlukan klasifikasi untuk mempermudah dalam mempelajarinya. Salah satu bahasan yang dipelajari dalam meteorologi adalah fenomena disekitar lintang ekuator, yaitu di daerah tropis. Meteorologi Tropis adalah ilmu yang mempelajari keadaan cuaca dan fenomenanya dari sifat fisis dan dinamis di daerah tropis. Indonesia merupakan daerah tropis yang unik, karena atmosfernya dipengaruhi oleh kehadiran angin pasat, aliran angin monsunal, iklim maritim, dan pengaruh lokal. (Andersen Panjaitan, 2005)

daerah tropis mengalami intensitas radiasi yang lebih banyak dengan daerah lintang tinggi. Hal ini mengakibatkan proses konveksi yang lebih besar sehingga pertumbuhan awan akan sangat tinggi. Didaerah lintang tinggi pada umumnya mengalami proses pembentukan awan yang bersifat adveksi, hal ini mengakibatkan proses kondensasi terjadi pada suhu titik beku atau diatasnya. Pada daerah tropis dimana sering terjadi konveksi, proses kondensasi dapat terjadi pada ketinggian yang rendah, sehingga memungkinkan terjadi pada suhu diatas < 10oC. Lapisan tropopause yang berada lebih tinggi daripada daerah kutub juga mengakibatkan kemungkinan untuk tumbuhnya awan lebih tinggi sampai mendekati 18km. Awan yang terbentuk setebal ini dan diakibatkan oleh

konveksi disebut awan Cumulonimbus atau Hot Tower. Sehingga sering dijumpai awan-awan cumulus yang dalam waktu sekejap berubah menjadi badai.

Selain dari sifat-sifat diatas untuk menentukan batasan daerah tropis sangat bergantung pada keadaan lokal yaitu sifat orografis dan topografisnya. Hal ini disebabkan karena pada lintang sekitar tropis dan subtropics, sering dijumpai pola laut yang luas, pegunungan, gurun dan dataran yang mempengaruhi dalam pembentukan sirkulasi umum angin. Dalam mempelajari atmosfer tropis biasanya daerah pembelajaran akan diperluas menjadi 30oLUsampai 30oLS hal ini dikarenakan proses penyebaran radiasi atmosfer pada saat matahari mencapai lintang subtropics akan disebarkan lebih luas keatas atau kebawah dari lintang 23,5o itu.

Berikut merupakan keunikan dari unsur cuaca yang terjadi di daerah tropis dibandingkan dengan daerah lintang tinggi :

o Temperatur udara yang lebih tinggi o Tekanan Udara yang lebih rendah

o Radiasi matahari dan intensitas yang diterima lebih besar

o Pola angin yang monsunal diakibatkan oleh pembentukan tekanan rendah pada saat matahari mencapai daerah 23,5o

o Pembentukan awan yang lebih banyak, khususnya awan-awan konvektif o Intensitas curah hujan yang lebih tinggi

Pada makalah ini kami akan membahas dan membandingkan tentang suhu yang telah diukur oleh para meteorologist, pada juni 1996 dikota Bandung. Suhu diukur pada 3 waktu yang berbeda, yaitu pada pukul 07.00,13.00, dan 18.00 waktu itu. Dengan demikian kita akan tahu, pada pukul berapa penyebaran radiasi oleh matahari ke atmosfer itu banyak diterima,terutama di daerah bandung yang berada di dataran tinggi, dan cukup dingin suhunya untuk ukuran orang-orang di Indonesia.

II. DATA

Dibawah ini akan disajikan data suhu atau temperatur di Bandung yang memiliki letak geografis 06^ 55' LS dan 107^ 36' BT serta berada di ketinggian 791 mdpl pada bulan Juni 1996. Pengukuran suhu itupun di ukur pada waktu tertentu, yaitu pada pukul 07.00,13.00,18.00. (stasiun Geofisika Bandung,1996)

 

Tanggal

 

 

Temperatur (^C)

 

 

 

 

07.00

 

 

13.00

 

 

18.00

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

 

 

19.8

 

 

28.4

 

 

25.6

 

 

2

 

 

20.2

 

 

29

 

 

25.6

 

 

3

 

 

20.6

 

 

29.4

 

 

26

 

 

4

 

 

20.6

 

 

29.2

 

 

25.4

 

 

5

 

 

18

 

 

28.2

 

 

25.4

 

 

6

 

 

20

 

 

28.4

 

 

25.2

 

 

7

 

 

20

 

 

27

 

 

26

 

 

8

 

 

21

 

 

26.4

 

 

23.2

 

 

9

 

 

20

 

 

25.2

 

 

22.2

 

 

10

 

 

20.4

 

 

26

 

 

24

 

 

11

 

 

21

 

 

25.8

 

 

24.1

 

 

12

 

 

20

 

 

28.4

 

 

24.2

 

 

13

 

 

20.4

 

 

27.2

 

 

25

 

 

14

 

 

19.4

 

 

28.2

 

 

25.6

 

 

15

 

 

20.2

 

 

29.4

 

 

24.2

 

 

16

 

 

19.7

 

 

30.2

 

 

24.6

 

 

17

 

 

19.4

 

 

27.2

 

 

26.6

 

 

18

 

 

19.8

 

 

29.6

 

 

25.2

 

 

19

 

 

19.4

 

 

27.6

 

 

25.8

 

 

20

 

 

19.4

 

 

28.4

 

 

25.4

 

 

21

 

 

19.6

 

 

28.6

 

 

25.5

 

 

22

 

 

20.4

 

 

28.2

 

 

25.4

 

 

23

 

 

20.8

 

 

29.4

 

 

26.1

 

 

24

 

 

21.4

 

 

27.6

 

 

22.2

 

 

25

 

 

19.4

 

 

27.4

 

 

24.6

 

 

26

 

 

19.4

 

 

28.4

 

 

24.8

 

 

27

 

 

18.2

 

 

29

 

 

25.6

 

 

28

 

 

18.6

 

 

29

 

 

26.2

 

 

29

 

 

20.6

 

 

27.4

 

 

24.8

 

 

30

 

 

19.2

 

 

20.6

 

 

23

 

III. SARI NUMERIK

Dibawah ini adalah data statistik deskriptif (sari numerik) dari suhu yang telah diukur pada pukul 07.00 (selanjutnya disebut data A), 13.00 (selanjutnya disebut data B), dan 18.00 (selanjutnya disebut data C) pada Juni 1996.

Pengolahan data ini dihitung secara manual serta menggunakan Microsoft Excel 2007.

Data

A

B

C

Variansi

0.63

3.29

1.26

Skewness

-0.50

-2.32

-1.06

Kurtosis

0.34

7.94

0.69

Median

20.00

28.40

25.40

Modus

19.40

28.40

25.60

Mean

19.90

27.83

24.92

Q1

19.40

27.35

24.50

Q2

20.00

28.40

25.40

Q3

20.60

29.05

25.65

dQ

1.20

1.70

1.15

BAP

22.40

31.60

27.38

BBP

17.60

24.80

22.78

Min

18.00

20.60

22.20

Max

21.40

30.20

26.60

Jumlah

596.90

834.80

747.50

Range

3.40

9.60

4.40

Standar Deviasi

0.79

1.81

1.12

Standar Error

0.82

1.01

0.93

IV. PENYAJIAN DATA

4.1 Grafik Batang

Grafik 4.1 data klimatologi di Bandung (Juni,1996) (stasiun geofisika Bandung).

4.2 Grafik Garis

Grafik 4.2 data klimatologi di Bandung (Juni,1996) (stasiun geofisika bandung)

4.3 Grafik Batang-Daun

Grafik 4.3 data klimatologi di Bandung (Juni,1996) (stasiun geofisika bandung)

4.4 Histogram

Karena data diatas berupa decimal, dan tidak memiliki variasi nilai yang begitu banyak, maka kami tidak memplotnya untuk histogram.

4.5 Pie Chart

Untuk Data diatas, grafik/ diagram pie ini tidak cocok digunakan, karena data diatas bukan merupakan data komposisi.

4.6 Box Plot

4.6.1 Box Plot Data A (pukul 7.00)

4.6.2 Box Plot Data B (Pukul 13.00)

4.6.3 Box Plot Data C (pukul 18.00)

4.7 Transformasi Data

Untuk mendapatkan data yang lebih simetris dan mengikuti distribusi normal, maka data perlu untuk ditranformasi menggunakan transformasi tangga tukey. Dibawah ini adalah hasil transformasi tangga tukey skewness positif Tabel 4.7.1 Transformasi Data A

Data

Skewness

Normal

-0.5

Transformasi x2

-0.38

Transformasi x3

-0.263406674

Transformasi 10x

3.496702289

Tabel 4.7.2 Transformasi Data B

Data

Skewness

Normal

-2.32

Transformasi x2

-1.928748385

Transformasi x3

-1.572197397

Transformasi 10x

4.572837016

Tabel 4.7.3 Transformasi Data C

Data

Skewness

Normal

-1.06

Transformasi x2

-0.965380197

Transformasi x3

-0.867709983

Transformasi 10x

3.562465282

V. ANALASIS DATA

Dari hasil nilai-nilai yang dihitung pada sari numeric kemudian disajikan dalam berbagai macam bentuk grafik, didapatkan analisis data sebagai berikut:

1.Pada hasil perhitungan sari numeric dari ketiga data didapatkan semua nilai mean < median, data A (19.90 < 20.00), data B (27.83 < 28.40), data C (24.92 < 25.40), yang berarti ketiga data tersebut memiliki kemencengan negative(skew negative).

2.Pada diagram batang-daun, jika ketiga diagram tersebut diputar berlawanan arah jarum jam sebesar 90o, maka akan terlihat kemencengan kurva negative.

3.Dari hasil perhitungan sari numeric didapat modus pada data A nilainya 19.40, data B 28.40, dan data C 25.60. Berarti pada bulan juni 1996 suhu yang sering muncul di pagi hari 19.40, pada siang hari suhu panas 28.04 dan pada sore hari suhu kembali menurun dan berkisar di 25.60.

4.Dari hasil perhitungan sari numeric, hasil skewness data A bernilai -0.5, berarti data tersebut memiliki kemencengan ke kiri. Kemudian, skewness data B bernilai -2.32, berarati data tersebut juga menceng ke kiri. Dan skewness data C bernilai -1.06,artinya data tersebut juga memiliki kemencengan ke kiri.

5.Melalu hasil data perhitungan sari numeric didapat nilai variansi untuk data A adalah 0.63, data B 3.29 dan untuk nilai variansi data C adalah 1.26. Data diatas menunjukkan bahwa nilai variansi dari ketiga nya kecil, maka penyebaran suhu selama bulan juni 1996 di kota Bandung saat itu seragam.

6.Dari perhitungan sari numeric didapat nilai kurtosisnya adalah 0,34 untuk data A, 7.94 untuk data B, dan 0.69 untuk data C. untuk data A,B menunjukkan kelancipan pada kurva distribusi yang berniali positif, dan

lebih lancip di bandingkan kurva distribusi normal, namun untuk data B,sebaliknya.

7.Dari hasil boxplot, dapat dilihat bahwa data A, tidak memiliki pencilan atas maupun bawah. Untuk data B, memiliki nilai pencilan bawah yang bernilai 20.60, namun tidak memiliki pencilan atas. Dan untuk nilai C, juga memiliki nilai pencilan bawah yaitu 22.20, tetapi tidak memiliki pencilan atas.

8.Untuk memperoleh data dengan distribusi yang lebih normal (skewness) mendekati satu digunakan tranformasi tangga tukey dengan x2. Untuk data A, akan memberikan nilai yang lebih mendekati skewness distribusi normal (-0.38) dibanding skewness awal (-0.5). Untuk x3 nilainya (-0.26). Untuk data B,nilai skewness awalnya adalah (-2.32), setelah menggunakan transformasi tangga tukey dengan x2 memberikan nilai (- 1.9),dan x3nilainya semakin jauh dari normalnya, yaitu (-1.5). Untuk data C, nilai skewness awalnya adalah (-1.06), namun setelah menggunakan tarnsformasi x2, nilainya menjadi (-0.9), dan saat menggunakan transformasi x3 nilainya menjadi semakin kecil yaitu (- 0.86).

VI. KESIMPULAN

Dari hasil analisis data diatas, terlihat bahwa pada bulan juni 1996 di kota Bandung, cuaca pada pagi hari nya sekitar pukul 07.00 terbilang sejuk. Pada siang hari nya suhu memang panas, namun masih dalam batas normal. Dan pada sore hari suhu bandung saat itu sedikit menurun. Hal ini menunjukkan kondisi suhu kota Bandung pada tahun 1996 masih bisa dikatakan normal dan intensitas radiasi matahari yang diserap oleh atmosfer tidak terlalu banyak, berbeda dengan kondisi cuaca dibandung sekarang yang siang harinya panas begitu terik, serta malamnya sangat dingin. Memang belum ada data yang diperoleh untuk kondisi sekarang, namun data diatas bisa dijadikan acuan untuk observasi meteorology selanjutnya atau kondisi sekarang.

VII. PUSTAKA

http://quickquack.wordpress.com/2009/09/09/paper-pendahuluan-meteorologi- tropis/ (10 februari 2013, 14.43)