Share PDF

Search documents:
  Report this document  
    Download as PDF   
      Share on Facebook

MENGGALI PERBEDAAN PENYEBAB KRISIS 1997 DAN 2008

Agatha Septianna Sri Ratnasari, M.Si

Abstract

The global financial crisis, brewing for a while, really started to show its effect in the middle of 2008. Around the worls stock markets have fallen, large financial institutions have collapsed or been bought out, and governments in even the wealthiest nations have had to come up with rescue packages to bail out their financial systems. Countries in Asia are increasingly worried about what is happening in the West brings effect like the Asian Financial Crisis that gripped much of Asia beginning in July 1997. What is the differences between Crisis 1997 and 2008?

Keywords : Global financial crisis, Asian Financial Crises

PENDAHULUAN

Krisis ekonomi global telah melanda dunia dan mempengaruhi kegiatan

perekonomian seluruh dunia. Membaca krisis global yang bermula di Amerika

mengingatkan tentang krisis Asia di tahun 1997 yang kemudian menjalar ke

Indonesia di tahun 1998, yang berdampak pada banyaknya bank yang tutup, PHK

dimana-mana, terjadi banyak pengangguran, keadaan politik yang tidak stabil dan

kerusuhan. Keadaan tersebut sedikit banyak membuat trauma dan membawa

pemikiran apakah akan separah itu akibat yang ditimbulkan dari krisis 2008.

Krisis yang menimpa suatu negara pada umumnya berkaitan erat dengan krisis

perbankan. Hal ini telah dialami oleh negara-negara di Asia pada akhir dekade tahun

1990-an, dimana krisis perbankan menimbulkan dampak yang sangat negatif

terhadap pertumbuhan ekonomi di asia. Krisis di Asia ini tidak hanya menghantam

perekonomian dan sistem keuangan semata, tapi telah meluas ke berbagai sektor,

sosial dan politik. Khusus di Indonesia, krisis yang terjadi akibat memburuknya

kinerja sektor perbankan dan lambatnyalangkah penyelamatan oleh bank sentral

dan pemerintah yang berpengaruh besar terhadap kondisi moneter dan kebijakan fiskal. Implikasi tersebut berpotensi memunculkan lingkaran setan atau vicious circle ketidakstabilan ekonomi makro. Krisis perbankan di Indonesia ini bertambah parah karena tidak hanya murni pada masalah keuangan, akan tetapi juga adanya dampak dari moral hazard yang timbul karena lemahnya good governance practices pada Bank Indonesia, pemerintah dan pelaku usaha.Akibatnya kerusakan fiskal dan moneter yang ditimbulkan menjadi lebih berat.

Menurut Ary Suta dan Musa (2003), langkah bank sentral untuk menyelamatkan bank-bank dengan mengucurkan bantuan likuiditas bank sentral menghadapi resiko besar. Bertambahnya jumlah uang primer yang beredar sangat berdampak besar terhadap kondisi perekonomian secara makro. Selain itu, bank sentral bisa terjebak pada situasi insolvency jika harus mengambil alih kewajiban yang nilai pasarnya lebih besar daripada kapasitasnya untuk membackup kewajiban tersebut. Pada umumnya, bank sentral hanya dapat membayar kembali kewajiban- kewajiban yang diambil alih dengan cara meningkatkan pencetakan uang. Akibatnya, terjadi akselerasi inflasi (accelerative inflationary effect). Alternatif lain yang dapat ditempuh pemerintah adalah dengan mengambil kebijakan fiskal yang ekspansif sehingga terjadi defisit anggaran yang besar untuk membiayai rekapitulasi bank-bank dengan mengeluarkan surat utang negara kepada bank sentral. Dengan melakukan hal ini secara langsung pemerintah meningkatkan kewajibannya dalam bentuk surat utang negara (liability expansion approach). Dalam menjalankan hal teresbut, maka dampak yang ditimbulkan adalah adalah ketidakstabilan neraca keuangan pemerintah dimana sisi neraca pembayaran pemerintah mengalami peningkatan yang signifikan untuk menanggung cost of crisis, sedangkan disisi neraca penerimaan pemerintah harus berupaya untuk meningkatkan penerimaan

untuk mengimbangi naiknya liabilities yang signifikan. Devaluasi dan peningkatan pajak (tax rate) merupakan alternatif yang tidak dapat dihindari oleh pemerintah. Hal ini akan menyebabkan devaluasi lebih lanjut dan cost of business yang tinggi bagi perusahaan-perusahaan swasta maupun publik dan menyebabkan kerugian yang lebih besar pada perusahaan-perusahan tersebut yang kemudian akan membentuk lingkaran ketidakstabilan ekonomi makro yang diilustrasikan dalam Gambar 1.

Gambar 1

Lingkaran Ketidakstabilan Makro Ekonomi

Perusahaan mengalami kerugian akibat devaluasi

 

 

 

 

Bank-bank

Devaluasi

 

 

 

mengalami

 

 

 

 

 

 

defisiensi modal

 

 

 

 

 

Dampak fiskal

 

menciptakan

 

kebutuhan

Inflasi meningkat

 

 

Bantuan pembiayaan dr

 

 

bank sentral membawa

lebih tinggi dari

 

 

ekspansi penciptaan uang

inflasi negara lain

 

 

domestik

Sumber : Membedah Krisis Perbankan, 2003

Krisis global yang terjadi pada tahun 2008, dipicu oleh krisis Subprime mortgage di Amerika Serikat yang kemudian menimbulkan domino effect yang menghantam berbagai sektor usaha dan melahirkan krisis ekonomi di seluruh dunia.

KRISIS SUBPRIME MORTGAGE

Pemicu dari krisis tahun 2008 adalah krisis gagal bayar subprime mortgage yang memicu krisis keuangan Amerika dan kemudian merebak ke negara-negara lain.Apa itu Subprime Mortgage ? Sebelum tahun 1925, di Amerika Serikat (AS) sudah ada UU Mortgage, yakni semacam undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi syarat tertentu, bisa mendapat mortgage, meskipun tidak sama. Pada tahun 1980, Pemerintah membuat keputusan yang disebut “Deregulasi Kontrol Moneter”. Intinya yaitu dalam hal kredit rumah, perusahaan real estate diperbolehkan menggunakan variabel bunga. Maksudnya adalah boleh mengenakan bunga tambahan dari bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru tersebut berlaku dua tahun kemudian dan membuat peluang besar bagi banyak sektor usaha, diantaranya : real estate, perbankan, asuransi, broker, underwriter dan seterusnya.Peluang ini kemudian dimanfaatkan perbankan secara nyata. Bank bisa dapat peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif, juga para broker dan bisnis lain yang terkait. Tetapi karena semua orang sudah punya rumah, maka tetap saja akan ada hambatan. Lalu pada tahun 1986, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya : pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi pembelian rumah satu lagi. Artinya, meskipun sudah punya rumah, kalau mau beli rumah satu lagi, masih bisa mendapatkan fasilitas tersebut. Di negara maju, sebuah keringanan pajak akan mendapat sambutan yang luar biasa, karena biasanya pajaknya memang sangat

tinggi. Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis menjelang 1990 dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang disebut mortgage yang biasanya hanya USD. 150 miliar setahun langsung menjadi dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun berikutnya meningkat semakin besar sampai pada tahun 2004 mencapai hampir USD. 700 miliar setahun. Kata mortgage berasal dari istilah hukum dalam bahasa Perancis artinya : matinya sebuah ikrar. Hal tersebut agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage, anda mendapat kredit. Lalu anda memiliki rumah. Rumah itu akan anda serahkan kepada pihak yang memberi kredit, anda boleh menempatinya selama cicilan anda belum lunas. Karena rumah itu bukan milik anda, begitu pembayaran mortgage macet, maka rumah itu otomatis tidak bisa ditempati. Sejak awal ada ikrar bahwa rumah itu bukan/belum milik anda, maka ketika tidak bisa membayar cicilan, ikrar itu dianggap mati. Dengan demikian, seseorang harus segera pergi meninggalkan rumah tersebut. Gairah bisnis rumah yang luar biasa dari tahun 1990-2004 bukan hanya karena fasilitas pajak tersebut. Fasilitas ini juga dilihat oleh para pelaku bisnis keuangan sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan meningkatkan laba. Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas mortgage. Keinginan yang besar dalam memberikan kredit bertemu dengan keinginan besar membeli rumah. Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank. Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang bank, tetapi juga para pemilik rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di mortgagekan lagi untuk membeli rumah berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumahpun bisa mendapatkan kredit dengan harapan harga rumahnya akan terus naik, Kalau suatu saat tidak bisa membayar, bank masih akan untung. Jadi, tidak ada kata takut di dalam memberikan kredit rumah. Tetapi, bank juga punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam

undang-undang perbankan yang keras. Namun, selalu masih ada jalan, yaitu bank bisa bekerjasama dengan bank jenis lain yang disebut investment banking, yaitu suatu perusahaan keuangan yang hanya mirip bank. Invetment banking lebih bebas daripada bank dan tidak terikat dengan peraturan bank. Invetment bank bisa berbuat banyak hal : menerima macam-macam deposito dari para pemilik uang, meminjamkan uang, meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli rumah, menjual rumah, private placeman, dan apapun bisa dilakukan bahkan melakukan hal yang belum pernah dilakukan. Contoh investment banking adalah Lehman Brothers, Bear Stern, Merril Lynch, dsb. Begitu agresifnya para investment banking tersebut, sehingga kalau dulu hanya orang yang memenuhi syarat (prime) saja yang mendapatkan mortgage, maka kemudian yang kurang memenuhi syarat pun (subprime) juga dirangsang untuk minta mortgage.Mortgage inilah yang kemudian disebut subprime mortgage, yaitu mortgage yang diberikan kepada mereka yang sebetulnya kurang mampu bayar. Perhitungannya, apabila gagal bayar, rumah dapat disita dan dapat dijual dengan harga yang lebih tinggi. Sehingga perusahaan investment banking akan tetap untung dan tidak pernah memperhitungkan akibat jangka panjangnya. Dalam waktu kurang dari 10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Pinjaman menggelembung dan kemudian meletus. Rumah yang disita sangat banyak, rumah yang dijual juga semakin bertambah. Semakin banyak orang yang menjual rumah, maka harganya semakin menurun. Semakin turun harga, semakin tidak menutup nilai pinjaman. Semakin banyak yang gagal bayar, maka perusahaan investment banking semakin banyak yang menderita kerugian.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman ini telah menjaminkan rumah-rumah tersebut kepada bank atau investment banking lain, demikian seterusnya. Sehingga satu ambruk, membuat yang lain ikut ambruk, seperti efek domino. Belum ada data akurat mengenai berapa rumah yang terkait gagal bayar dan berapa jumlahnya, namun kurang lebih tidak kurang dari USD. 5 trilyun. Hal inilah yang kemudian menjelaskan mengapa investment banking raksasa seperti Lehman Brothers terpaksa gulung tikar. Merril Lynch dibeli Bank of America, Bear Sterns dibeli JP Morgan dan keluar dari klub elite lembaga keuangan.

INDIKATOR KRISIS 1997

Tanda-tanda akan terjadinya krisis perlu dicermati dari data-data historis yang menyebabkan terjadinya krisis tersebut. Tanda-tanda atau symptoms atau yang sering disebut early warning signals dapat berasal dari berbagai sumber baik dari kebijakan moneter dan fiskal maupun dari sektor perbankan, pasar modal dan sektor riil. Krisis ekonomi di Asia dimulai dengan terjadinya krisis nilai tukar mata uang asing terhadap dollar Amerika. Krisis nilai tukar ini dimulai dari Thailand yang kemudian menjalar ke Korea dan Indonesia. Ketiga negara tersebut, bila dicermati memiliki satu kesamaan dalam kebijakan-kebijakan yang diambil oleh masing- masing pemerintah dan indikator-indikator ekonomi yang dapat dijadikan early warning signals terhadap potensi datangnya krisis tersebut. Di era sebelum krisis, negara-negara Asia pada umumnya menerapkan kebijakan liberalisasi sektor keuangan dimana kebijakan ini mendorong meningkatnya dana luar negeri yang masuk baik dalam bentuk pinjaman maupun berupa dana investasi atau penyertaan saham. Pada saat yang bersamaan, negara-negara tersebut juga memberlakukan kebijakan managed depreciation nilai tukar mata uang negara tersebut terhadap

dollar Amerika. Disisi kebijakan moneter, kebijakan tersebut secara otomatis memerlukan penyesuaian terhadap kebijakan suku bunga tanpa mengesampingkan faktor inflasi. Jika tidak dilakukan dengan hati-hati maka di satu sisi kebijakan tersebut akan mengakibatkan overvalue terhadap mata uang negara tersebut dan pada saat yang bersamaan mengakibatkan undervalue terhadap suku bunga. Keadaan ini sangat rentan terhadap economic shocks sebagaimana yang dialami Indonesia. Kebijakan suku bunga akan berpengaruh terhadap pergerakan modal (capital flows). Negara-negara yang dilanda krisis pada umumnya juga menerapkan kebijakan perdagangan bebas yang merupakan salah satu kebijakan fiskal dimana pemerintah melalui pengaturan perpajakan memberi insentif untuk mendukung dibukanya perdagangan dengan pihak luar negeri.

Kebijakan pemerintah yang mendorong investasi domestik melalui dana pinjaman tanpa memperhatikan prinsip kehati-hatian dan prinsip resiko kredit dan resiko pasar menciptakan suatu iklim dimana perusahaan-perusahaan cenderung untuk meminjam sebesar-besarnya, terutama pinjaman jangka pendek. Keadaan ini akan membuat ketidakseimbangan antara cadangan minimum yang ada dengan potensi kewajiban jangka pendek dan akhirnya berdampak pada likuiditas pe merintah.

Indikator ketiga yang digunakan untuk melihat terjadinya suatu krisis, yaitu sektor perbankan dapat dilihat sebagai berikut :

1.Lemahnya fungsi pengawasan dan pengaturan perbankan seperti pengaturan mengenai batas maksimum pinjaman pada pihak terkait dan penerapan prinsip kehati-hatian dalam memberikan pinjaman, mengakibatkan sistem perbankan tidak berjalan dengan baik.

2.Terjadinya ekspansi kredit yang sangat tinggi kepada perusahaan-perusahaan besar dalam waktu singkat tanpa disertai dengan analisa resiko yang menyeluruh. Bank juga memberikan garansi terhadap kebutuhan dana dari paerusahan-perusahan untuk melakukan ekspansi usaha. Akibatnya bank- bank memiliki exposure (resiko) yang tinggi dalam pembiayaan proyek- proyek, khususnya di sektor properti dan perusahan-perusahaan holding yang mempunyai rasio modal dan aset yang sangat rendah.

3.Lemahnya struktur permodalan perbankan. Contohnya adalah kondisi perbankan dimana perbandingan antara permodalan terhadap total kredit yang disalurkan sangat rendah dan kredit tersebut kemudian menjadi kredit macet.

4.Kurangnya penerapan integrated risk assessment baik dari segi operasional, transaksi dan resiko pasar (market risk).

Pada sektor pasar modal, biasanya justru mengalami pertumbuhan pesat pada masa krisis. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan capital inflow yang terjadi sebagai akibat penerapan kebijakan fiskal dan moneter.Terkadang karena sangat tingginya pertumbuhan sektor pasar modal, pada saat tertentu diikuti oleh crowding effect dimana para investor merasakan investasi di pasar modal menjadi mahal, khususnya hal ini diperburuk dengan adanya persepsi bahwa mata uang negara terkait overvalue sedangkan tingkat suku bunga menjadi undervalue dimana tingkat suku bunga riil menjadi lebih rendah tanpa dibarengi dengan turunnya suku bunga pinjaman.

Pada sektor riil, terjadi indikasi pertumbuhan sektor riil yang sangat pesat dalam kurun waktu yang singkat. Pertumbuhan ini didukung dengan meningkatnya

penggunaan dana pinjaman dari bank atau pasar modal terutama yang bersifat non- ekuitas (non equity source of fund) untuk mendanai proyek-proyek yang beresiko tinggi.

Lemahnya penerapan tata kelola (good governance) terhadap kebijakan- kebijakan pemerintahdapat dijadikan indikator terhadap potensi terjadinya krisis. Yang perlu dicermati adalah :

∑Penerapan tata kelola dalam sistem perbankan. Banyaknya keringanan (forebearance) terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan yang ada menyebabkan timbulnya ketidak konsistenan dalam pengelolaan sistem perbankan. Hal ini dapat dilihat dari tingginya tingkat exposure sektor perbankan terhadap kredit pada pihak terkait.

∑Penerapan tata kelola pada sistem politik. Sulit untuk disangkal bahwa telah terjadi tekanan-tekanan politik terhadap sektor keuangan, khususnya sektor perbankan untuk kepentingan politik. Hal ini disebabkan belum sehatnya praktik dan budaya politik dalam sistem politik Indonesia.

∑Penerapan tata kelola dalam sistem korporasi. Pada umumnya negara-negara yang terkena krisis terparah adalah negara-negara yang sistem tata kelola korporasinya masih lemah antara lain dalam bidang akuntansi yang implementasinya sering tidak sesuai dengan standar akuntansi yang ditentukan di negara tersebut, sistem manajemen yang masih berdasarkan koneksi atau nepotisme tanpa memperhatikan kemampuan dan profesionalisme, tidak adanya keterbukaan informasi (transparansi), dan tidak adanya akuntabilitas yang jelas.

INDIKATOR KRISIS 2008

Beberapa indikator yang dapat diamati mengenai krisis tahun 2008 antara lain

adalah :

1.Resesi AS makin parah. Sebelumnya sudah ada gejala melemahnya ekonomi AS, diperparah dengan kegagalan subprime mortgage. Lembaga keuangan mengalami kesulitan dana, sehingga kredit sangat diperketat bahkan dihentikan, investasi menurun, sektor riil terpukul dan pertumbuhan ekonomi AS mengalami kontraksi. Dengan demikian, resesi AS benar-benar terjadi dan menjalar ke negara-negara lain karena banyak sekali negara yang mempunyai hubungan dagang dalam jumlah besar denngan negara AS. Resesi oleh beberapa kalangan seperti Bloomberg didefinisikan sebagai keadaan dimana terjadi penurunan secara signifikan dalam aktivitas sepanjang periode waktu yang berkelanjutan. Menurut para ekonom yang disurvei Bloomberg, perekonomian AS menyusut dengan laju tahunan 0,2% pada kuartal III/2008 dan 0,89% pada kuartal IV/2008 ( Koran Bisnis Indonesia, 2008).

2.Timbul kerugian besar. Sepuluh institusi keuangan mengalami kerugian dan penurunan aset terbesar yang mengakibatkan pemangkasan secara besar-besaran jumlah karyawan masing-masing

Tabel 1

Jumlah kerugian/penurunan aset terbesar dan Jumlah

Pemangkasan Karyawan Sepuluh Institusi Keuangan Dunia

Institusi

Kerugian

Pemangkasan

 

(US$ miliar)

Karyawan

 

 

 

Wachovia Corp

96,7

8.393

 

 

 

Citigroup Inc.

61,0

23.500

 

 

 

Merril Lynch & Co

52,2

5.220

 

 

 

Washington Mutual Inc.

45,6

4.200

 

 

 

UBS AG

44,2

9,000

 

 

 

HSBC Holding Plc

27,4

2,780

 

 

 

Bank of America Corp.

27,4

11,150

 

 

 

JP Morgan Chase & Co

20,5

4.100

 

 

 

Wells Fargo & Co.

17,7

500

 

 

 

Morgan Stanley

15,7

24.600

 

 

 

Sumber : Artikel : Mencoba memahami krisis keuangan 2008

3. Terjadi Kesulitan Likuiditas. Secara umum, perusahaan yang menderita kerugian memerlukan tambahan likuiditas sehingga perlu mencairkan investasinya dalam jumlah yang besar. Hal ini akan menurunkan nilai saham di bursa, yang berdampak juga di Indonesia, karena kurang lebih 40%-45% saham yang diperdagangkan di bursa Indonesia milik investor asing. Di Indonesia, kekurangan likuiditas bank juga disebabkan oleh faktor lain, yaitu kecepatan pemberian kredit yang tidak diimbangi dengan kecepatan penumpukan dana. Faktor kesulitan likuiditas akan menghambat pemberian kredit dan selanjutnya juga menghambat perkembangan berbagai jenis industri. Perlambatan

perkembangan industri pada gilirannya akan memperlambat perkembangan ekonomi negara.

4. Harga Saham Anjlok. Anjloknya harga saham dapat dilihat dari menurunnya secara drastis indeks saham dari beberapa negara sejak Desember 2007 sampai Oktober 2008.

Tabel 2

Indeks Saham Beberapa Negara

30 Desember 2007 – 10 Oktober 2008

Negara

Indeks

Tingkat

 

 

Penurunan

 

 

 

Amerika Serikat

Dow Jones in average

(35,32)%

 

 

 

 

S & P 500

(38,03)%

 

 

 

 

Nasdaq

(37,97)%

 

 

 

Brasil

Brasil Bovespa

(41,96)%

 

 

 

Inggris

FTSE 100

(33,19)%

 

 

 

Indonesia

IHSG

(47,13%)

 

 

 

Jepang

Nikkei 225

(45,93)%

 

 

 

Hongkong

Hang Seng

(46,61)%

 

 

 

Malaysia

KL Composite Index

(34.91)%

 

 

 

Singapore

Strait Times

(43,40)%

 

 

 

Vietnam

VN Index

(59,11)%

 

 

 

China

Shanghai Composite

(62,07)%

 

 

 

5.Nilai Berbagai Mata uang Melemah. Krisis keuangan mendorong melemahnya nilai mata uang di beberapa negara seperti di Indonesia. Kurs tengah uang USD

di Bank Indonesia yang pada tgl. 29 Agustus 2008 masih Rp.9.153, pada 13

Oktober 2008 telah naik menjadi Rp. 9.865,.

6.Pengangguran Meningkat. Karena peningkatan ekonomi melambat dan banyak perusahaan keuangan gulung tikar atau mengalami kerugian besar, banyak karyawan diberhentikan dan menjadi penganggur. Survei dari Bloomberg menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di AS per 8 September 2008 sudah

mencapai 6,1%. IMF mencatat bahwa akibat krisis proyeksi angka pengangguran sebagai beikut :

Tabel 3

Proyeksi angka pengangguran (akibat krisis)

Kawasan

2007

2008

 

 

 

Asia

5,7%

6,2%

 

 

 

Dunia

190 juta

210 juta

 

 

 

Sumber resmi IMF, Harian Bisnis Indonesia, 22 Oktober 2008

7.Sektor Riil mengalami Kesulitan. Sektor industri yang mempunyai kandungan impor yang tinggi dan berorientasi ekspor akan menerima dampak paling tinggi. Resesi AS akan memicu resesi dunia, karena permintaan barang-barang produksi tidak hanya negara sendiri, tetapi negara berkembang seperti Indonesia, sehingga produksi barang akan lambat, karena kurang laku, pengaruh terbesar pada kondisi ekspornya.

PERBEDAAN KRISIS 1997 DAN 2008 DI INDONESIA

Apakah krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia tahun 1998 akibat krisis Asia tahun 1997 akan berulang lagi saat ini akibat krisis global tahun 2008 ? Banyak

pihak yang tidak sependapat tentang hal ini karena ada perbedaan yang menyolok antara krisis tahun 1998 dan krisis dunia saat ini terhadap Indonesia. Secara makro ekonomi, kondisi Indonesia saat ini jauh lebih kuat daripada tahun 1997-1998. Beberapa perbedaan dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4

Perbedaan krisis dan kondisi Indonesia tahun 1998 dan 2008

 

 

Tahun 1998

 

Tahun 2008

 

 

 

 

 

Krisis

disebabkan oleh

debitur

Krisis disebabkan oleh lembaga

korporasi yang memiliki utang

keuangan dan perbankan AS

bank kelewat tinggi

 

 

 

 

 

 

Rasio utang terhadap GDP dan

Rasio utang terhadap GDP dan

cadangan devisa negara jelek

cadangan devisa jauh lebih baik

 

 

 

 

 

 

Kondisi

korporasi

pada

Kondisi

korporasi

pada

umumnya kurang baik

 

umumnya sangat baik

 

 

 

 

 

Depresiasi rupiah 100%

 

Depresiasi rupiah 5%

 

 

 

 

 

Inflasi 20%

 

Inflasi 11,14%

 

 

 

 

NPL (non performing loan)

NPL perbankan 1%

 

perbankan 60%

 

 

 

 

 

 

 

 

Suku

bunga SBI (Sertifikat

Suku bunga SBI 9,5%

 

Bank Indonesia) 50%

 

 

 

 

 

 

 

Suku bunga PUAB (Pinjaman

Suku bunga PUAB 12%

 

uang antar bank) 200%

 

 

 

 

 

 

 

 

Giro bank terhadap GWM (giro

Giro bank

terhadap

GWM:

wajib

 

minimum):

minus

surplus Rp.3 triliun

 

Rp.26,6 triliun

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Cadangan devisa USD. 22,1

Cadangan

devisa

USD.57

milyar

milyar

 

 

 

 

Fundamental ekonomi kurang

Fundamental ekonomi kuat

kuat

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : Artikel : Mencoba memahami krisis keuangan 2008

PENUTUP

Berdasarkan penjelasan dan perbedaan-perbedaan di atas menunjukkan bahwa penyebab krisis dan kondisi perekonomian tahun 2008 dan 1998 tidak hanya berbeda, tetapi kondisi perekonomiannya jauh lebih baik dari tahun 1998, sehingga meskipun Indonesia tetap akan terimbas krisis ekonomi dunia pada tahun 2008 dan mungkin tahun berikutnya, namun tidak akan separah krisis 1998. Dengan perkataan lain, banyak pengamat mengatakan bahwa krisis ala 1998 tidak akan terulang lagi pada tahun 2008. Meskipun demikian, pemerintah tetap masih harus berlaku waspada.

DAFTAR PUSTAKA

Artikel : IMF, Harian Bisnis Indonesia, 22 Oktober 2008

Artikel : Selamat datang resesi AS, Koran Bisnis Indonesia, 10 Oktober 2008

Ary Suta, I putu Gede dan Musa, Soebowo, 2003, Membedah Krisis Perbankan : Anatomi krisis dan penyehatan perbankan, Yayasan Sad Satria Bhakti, Jakarta.

Djokopranoto, R, 2009, Artikel : Mencoba memahami krisis keuangan 2008 , disampaikan di Forum APTIK, Widya Mandala, Madiun

http://en.wikipedia.org/wiki/1997_Asian_Financial_Crisis

http://www.globalissues.org/article/768/global-financial-crisis