Share PDF

Search documents:
  Report this document  
    Download as PDF   
      Share on Facebook

Peran Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Pertamina Hulu Energy WMO dalam Pengembangan Masyarakat di Kecamatan Gresik

Nike Agustina

Email : nike.agustina@yahoo.com

Universitas Negeri Surabaya

Abstract

PT. Pertamina Hulu Energy WMO is a pure oil-producing companies that operate in the district of Gresik. The existence of social responsibility to the community around the area holding company with community development programs. The Community development programs include improving the quality of education, increase small and medium businesses, improving the quality of health, environmental conservation, and improvement of public facilities. The impact of community development programs covering is an increase in assets, the expansion of business networks, develop the labor market, as well as skill development.

Keywords: Corporate Social Responsbility, community development programs, the role of CSR, CSR impact.

Abstrak: PT. Pertamina Hulu Energy WMO merupakan perusahaan penghasil minyak murni yang beroperasi di Kecamatan Gresik. Bentuk tanggungjawab sosial kepada masyarakat di sekitar area perusahaan dengan mengadakan program pengembangan masyarakat. Program pengembangan masyarakat tersebut meliputi peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan usaha kecil menengah, peningkatan kualitas kesehatan, pelestarian lingkungan, serta perbaikan fasilitas umum. Dampak program pengembangan masyarakat meliputi adalah adanya peningkatan aset, perluasan jaringan usaha, mengembangkan pasar kerja, serta pengembangan skill.

Kata Kunci: Corporate Social Responsbility, program pengembangan masyarakat, peran CSR, dampak CSR.

PENDAHULUAN

Konsep Corporate Social Responsibility (CSR) menurut Bank Dunia adalah komitmen perusahaan untuk berperilaku etis dan memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan melalui kerjasama dengan segenap pemangku kepentingan yang terkait untuk memperbaiki hidup mereka dengan cara-cara yang baik bagi kepentingan bisnis, agenda pembangunan berkelanjutan, dan masyarakat pada umumnya (Kiroyan, 2009). Melalui CSR perusahaan tidak semata memprioritaskan tujuannya pada memperoleh laba setinggi-tingginya, melainkan meliputi aspek keuangan, sosial, dan aspek lingkungan lainnya (Suharto, 2006).

Terbitnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang dalam salah satu pasalnya memuat kewajiban bagi perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam, untuk melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), ditanggapi dengan beragam sikap oleh berbagai pihak. CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para stakeholders-nya, terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan pengoperasian perusahaan. Hal ini guna menciptakan sebuah keseimbangan dan pemerataan kesejahteraan sosial ekonomi di masyarakat agar kecemburuan sosial tidak lagi berpotensi menjadi sumber konflik.

CSR dipandang sebagai suatu keharusan untuk menciptakan citra yang baik bagi suatu perusahaan. Praktik CSR yang berkelanjutan adalah sebuah investasi sosial yang berbuah pada kelancaran operasional perusahaan. Terlaksananya praktik-praktik yang bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial akan meningkatkan nilai pemegang saham, dan berdampak pada peningkatan prestasi keuangan dan keberlanjutan perusahaan.

PT. Pertamina Hulu Energy WMO merupakan perusahaan milik negara yang bergerak dalam bidang pengelolaan minyak dengan perkembangan yang sangat pesat. PT. Pertamina Hulu Energy WMO adalah perusahaan yang sumber produksinya berasal dari minyak murni yang berada di daerah Gresik-Madura yang memiliki bahan mentah minyak. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana peran CSR PT. Pertamina Hulu Energy WMO khususnya program pengembangan masyarakat dan dampak apa yang dihasilkan dari program CSR tersebut.

Kegiatan pengembangan masyarakat ini dilakukan di Kecamatan Gresik dikarenakan wilayah ini merupakan daerah pesisir pantai dan mayoritas penduduk yang bertempat tinggal di sekitar lokasi perusahaan adalah nelayan, sehingga PT. Pertamina Hulu Energy WMO ingin mengembangkan potensi yang dimiliki masyarakat tersebut dengan melakukan program peningkatan kualitas pendidikan, peningkatan usaha kecil menengah, peningkatan kesehatan masyarakat, pelestarian lingkungan, serta perbaikan fasilitas umum (fasum).

KAJIAN TEORITIS

Definisi yang diterima luas oleh para praktisi dan aktivis CSR adalah definisi menurut

The World Business Council for Sustainable Development yaitu bahwa CSR merupakan suatu komitmen terus-menerus dari pelaku bisnis untuk berlaku etis dan untuk memberikan kontribusi bagi perkembangan ekonomi sambil meningkatkan kualitas hidup para pekerja dan keluarganya, juga bagi komunitas lokal dan masyarakat pada umumnya. Dari definisi ini kita melihat pentingnya ‘sustainability’

(berkesinambungan/ berkelanjutan), yaitu dilakukan secara terus menerus untuk efek jangka panjang dan bukan hanya dilakukan sekali saja.

Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan (sesuai kemampuan perusahaan tersebut) sebagai bentuk tanggungjawab mereka terhadap sosial/lingkungan sekitar dimana perusahaan itu berada. Contoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada. Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan fenomena strategi perusahaan yang mengakomodasi kebutuhan dan kepentingan stakeholder-nya. CSR timbul sejak era dimana kesadaran akan sustainability perusahaan jangka panjang adalah lebih penting daripada sekedar profitability.

Konsep CSR dengan demikian memiliki arti bahwa selain memiliki tanggung jawab untuk mendatangkan keuntungan bagi para pemegang saham dan untuk menjalankan bisnisnya sesuai ketentuan hukum yang berlaku, suatu perusahaan juga memiliki tanggungjawab moral, etika, dan filantropik. Pandangan tradisional mengenai perusahaan melihat bahwa tanggung jawab utama (jika bukan satu-satunya) perusahaan adalah semata-mata terhadap pemiliknya, atau para pemegang saham. Adanya konsep CSR mewajibkan perusahaan untuk memiliki pandangan yang lebih luas yaitu bahwa perusahaan juga memiliki tanggung jawab terhadap pihak-pihak lain seperti karyawan, supplier, konsumen, komunitas setempat, masyarakat secara luas, pemerintah, dan kelompok – kelompok lainnya. Dalam hal ini, jika sebelumnya pijakan tanggung jawab perusahaan hanya terbatas pada sisi finansial saja (single bottom line), kini dikenal konsep ‘triple bottom line’, yaitu bahwa tanggung jawab perusahaan berpijak pada 3

dasar, yaitu : finansial, sosial dan lingkungan atau yang juga dikenal dengan 3P (profit, people, planet).

Sebagaimana diuraikan mengenai definisi CSR di atas, konsep CSR merupakan ‘inisiatif’ perusahaan dan merupakan tindakan sukarela. Hal tersebut melahirkan dua pandangan mengenai perlu atau tidaknya regulasi mengenai CSR menjadi suatu kewajiban hukum. Ada pandangan yang mengatakan bahwa apabila diatur sebagai kewajiban hukum maka itu adalah tidak sesuai dengan semangat CSR itu sendiri yang sebenarnya merupakan aktifitas sukarela dari perusahaan untuk berbuat sesuatu bagi masyarakat. Regulasi CSR dalam ‘hard law’ (yaitu dalam UU PT No. 40 tahun 2007 dalam hukum Indonesia) dapat dikatakan sebagai suatu langkah kemunduran di tengah tren hukum bisnis global yang menuju pada arah deregulasi dan lebih memberikan ruang pada upaya ‘self regulation‘ melalui perangkat ‘soft law’.

Sebelum diatur secara eksplisit dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (dan sebelumnya dalam UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal), konsep CSR sebenarnya telah diatur dalam beberapa Undang-undang di Indonesia. Mengingat definisi dan cakupan CSR yang luas, yaitu termasuk bidang lingkungan, konsumen, ketenagakerjaan dan lain-lain, maka di bawah ini diuraikan tentang beberapa Undang-Undang yang di dalamnya secara tidak langsung mengatur tentang konsep CSR, yaitu (1) UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup,

(2) UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, (3) UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian tentang Corporate Social Responsibility (CSR) telah dilakukan oleh para peneliti terdahulu. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Mirfazli dan Nurdiono (2007) menyatakan untuk perlu memperhatikan karakteristik operasi perusahaan serta dampak sosial perusahaan yang diakibatkan operasi perusahaan tersebut. Karakteristik operasi perusahaan yang menghasilkan dampak sosial yang tinggi akan menuntut pemenuhan tanggung jawab sosial yang lebih tinggi pula. Pelaksanaan tanggungjawab sosial akan disosialisasikan kepada publik melalui pengungkapan sosial dalam laporan tahunan.

Penelitian yang dilakukan oleh Musrifah (2009) menjelaskan bahwa tanggung jawab sosial PT. Jababeka ditunjukan dalam upaya peningkatan ekonomi masyarakat dengan Program Penggemukan Kambing di Desa Simpangan Kecamatan Cikarang Utara. Alasan pemilihan program adalah karena desa ini memiliki embrio kegiatan usaha sejenis. Program ini memberikan bantuan dana penggemukan kambing kepada masyarakat berupa 87 ekor kambing muda berusia sembilan bulan. Selain itu perusahaan memberikan bantuan pakan ternak untuk masa waktu empat bulan penggemukan. Masyarakat penerima bantuan terdiri dari 9 kelompok dengan masing- masing kelompok terdiri atas 6 orang. Setelah masa penggemukan dalam bulan Idul Adha, kambing-kambing tersebut dibeli kembali oleh perusahaan sesuai dengan harga pasar. Orang-orang yang bergabung dalam komunitas tersebut memperoleh untung dari selisih harga jual kambing dan biaya pinjaman yang harus dikembalikan kepada perusahaan selaku pemberi bantuan pinjaman. Bantuan pinjaman modal usaha semacam ini memberikan kesempatan bagi komunitas untuk melakukan kegiatan usaha produktif yang menghasilkan keuntungan secara ekonomi. Pemilihan jenis kegiatan

yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat menjadi pelajaran yang patut dicatat dalam keberhasilan program ini.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif. Metode deskriptif kualitatif dipilih sesuai dengan tujuan penelitian yang hendak menggambarkan dan menguraikan penerapan CSR pada suatu perusahaan sehingga akan diperoleh gambaran penerapan CSR yang dilakukan oleh PT. Pertamina Hulu Energy WMO, sesuai dengan realita sosial yang terjadi pada obyek penelitian.

Penelitian ini dilakukan di PT. Pertamina Hulu Energy WMO yang berdomisili di Kecamatan Gresik. Unit analisis penelitian ini adalah salah satu staf PT. Pertamina Hulu Energy WMO dan penduduk yang tinggal di sekitar area perusahaan, diantaranya warga Desa Sidorukun, warga Desa Bedilan, warga Desa Kramat Inggil dan warga Desa Kramat Langon.

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah interview (wawancara), dan observasi (pengamatan, participant observer technique). Interview (wawancara) dimulai dengan membuat daftar pertanyaan yang disusun secara struktural kemudian diajukan kepada pihak yang dituju dalam bentuk wawancara secara terbuka. Wawancara dilakukan kepada masyarakat yang menerima bantuan langsung dari PT. Pertamina Hulu Energy WMO. Observasi atau pengamatan langsung terhadap objek penelitian dilakukan untuk mengetahui kebenaran adanya CSR yang dilakukan PT. Pertamina Hulu Energy WMO.

Teknik analisis data penelitian ini adalah mendeskripsikan kebijakan CSR dari PT. Pertamina Hulu Energy WMO di Kecamatan Gresik, mendeskripsikan

perkembangan masyarakat yang mendapatkan bantuan dari PT. Pertamina Hulu Energy WMO kemudian menganalisis kebijakan CSR PT. Pertamina Hulu Energy WMO terhadap kesejahteraan masyarakat yang menerima bantuan dari program tersebut.

PEMBAHASAN

Program CSR PT. Pertamina Hulu Energy WMO dalam Pengembangan

Masyarakat

PT. Pertamina Hulu Energy WMO menyadari bahwa keberhasilan bisnisnya tidak terlepas dari kondisi masyarakat itu sendiri. PT. Pertamina Hulu Energy WMO merupakan usaha BUMN yang strategis di Indonesia terkait dengan bisnisnya di bidang minyak (minyak mentah dan produk BBM), gas bumi (LNG, LPG, dan BBG), panas bumi, petrokimia dan energy. PT. Pertamina Hulu Energy WMO memiliki posisi penting dalam pembangunan ekonomi nasional karena menjadi tumpuan negara yang memberikan kontribusi bagi pendapatan negara baik dari pajak maupun setoran deviden.

Keberadaan PT. Pertamina Hulu Energy WMO ditengah-tengah masyarakat memberikan kontribusi bagi masyarakat di sekitarnya, sehingga masyarakat tumbuh dan berkembang. PT. Pertamina Hulu Energy WMO menyadari bahwa keberhasilan bisnis PT. Pertamina Hulu Energy WMO tidak terlepas dari kondisi masyarakat itu sendiri.

Komitmen PT. Pertamina Hulu Energy WMO untuk mendukung dan membantu upaya pemerintah dan masyarakat dalam membangun masyarakat Indonesia yag berdaya secara ekonomi, sosial, dan budaya menjadi bagian dari tanggungjawab sosial perusahaan/Corporate Social Responsbility (CSR) dengan kebijakan sebagai berikut:

(1) Penerapan CSR PT. Pertamina Hulu Energy WMO merupakan refleksi nilai dan budaya perusahaan yang terintegrasi dengan strategi bisnis perusahaan masa kini dan mendatang yang memberikan manfaat bagi PT. Pertamina Hulu Energy WMO, shareholder dan stakeholders. (2) Mengingat kondisi nyata masyarakat Kecamatan Gresik, penerapan CSR saat ini lebih di prioritaskan untuk membantu masyarakat dan pemerintah dalam memecahkan permasalahan sosial di sekitar kegiatan PT. Pertamina Hulu Energy WMO. (3) Pelaksanaan kegiatan CSR PT. Pertamina Hulu Energy WMO dikendalikan sepenuhnya oleh perusahaan dengan bekerjasama antara pemerintah dan masyarakat setempat dan bila perlu dapat bekerjasama dengan lembaga-lembaga lainnya. (4) Program-program CSR PT. Pertamina Hulu Energy WMO dikembangkan dan diprioritaskan pada bidang pendidikan, UKM, kesehatan, pelestarian lingkungan, dan perbaikan fasilitas umum (fasum).

Pendidikan

Masalah yang sering ditemui dalam bidang pendidikan adalah rendahnya kualitas penyelenggaraan pendidikan, seperti kondisi fisik bangunan sekolah dan perlengkapan pendidikan yang tidak memadai, ketersediaan perpustakaan sekolah, serta kualitas tenaga pendidik. Masalah lainnya yang penting adalah rendahnya kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pendidikan dasar, menengah, dan tinggi akibat ketidakberdayaan ekonomi. Program CSR PT. Pertamina Hulu Energy WMO di bidang pendidikan melingkupi kualitas dan akses pendidikan sebagai berikut: (a) peningkatan SDM (pelatihan kerja, pengadaan peralatan usaha, pendampingan manajerial), (b) dukungan pendidikan (beasiswa, renovasi gedung sekolah), (c) pengenalan dan pengembangan multimedia (pengadaan komputer, kursus dan pendampingan).

Bekerjasama dengan pemerintah, PT. Pertamina Hulu Energy WMO merenovasi gedung sekolah SDN Sidorukun Gresik, yang berupa perbaikan ruang kelas, ruang guru, ruang perpustakaan, lapangan sekolah (menambah fasilitas olahraga seperti, ring basket, gawang sepak bola, dan bola).

Bantuan beasiswa juga diberikan untuk membantu masyarakat dalam upaya memperoleh pendidikan formal, terutama memenuhi program wajib belajar 12 tahun yang diberikan khusus kepada anak yatim/piatu/yatim piatu. Menyadari bahwa fasilitas belajar merupakan hal penting dalam kegiatan pendidikan yang berkualitas, maka PT. Pertamina Hulu Energy WMO telah membantu renovasi bangunan sekolah tingkat SD yang berada di sekitar kegiatan PT. Pertamina Hulu Energy WMO, beserta perlengkapan pendidikan seperti peralatan laboratorium, sarana komputer, olahraga, dan lain-lain.

PT. Pertamina Hulu Energy WMO berkomitmen untuk meningkatkan kecerdasan dan wawasan pengetahuan bagi masyarakat melalui bantuan penyediaan buku-buku bacaan anak untuk perpustakaan-perpustakaan sekolah atau komunitas taman baca anak. Penyediaan buku-buku yang memadai, diharapkan dapat menumbuhkembangkan minat baca khususnya di kalangan anak-anak dan pelajar.

Usaha Kecil Menengah (UKM)

Kesejahteraan masyarakat tidak terlepas dari kemampuan masyarakat untuk mendapatkan nilai ekonomi yang lebih dari nafkah yang dihasilkannya. Upaya meningkatkan nilai ekonomi sektor informal tersebut sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti peluang, kemampuan bisnis, serta akses permodalan dan pasar. Keterbatasan pemerintah dalam menyiapkan sektor formal untuk menampung

kebutuhan masyarakat akan pekerjaan merupakan dorongan bagi pemerintah untuk menciptakan ruang bagi masyarakat untuk mendapatkan pekerjaan sektor informal. Oleh karena itu, salah satu kebijakan pemerintah adalah mendorong dan membina usaha-usaha kecil untuk tumbuh dan berkembang menjadi kebutuhan ekonomi masyarakat yang sesungguhnya.

Salah satu cara memajukan usaha kecil tersebut adalah peningkatan usaha perikanan dan kelautan (pengadaan peralatan, pendampingan kelompok usaha bersama), pemberdayaan usaha kecil / menengah (pelatihan usaha, pengadaan peralatan usaha, pengelompokan, pendampingan manajemen pengelola), pengelolaan kompos (pelatihan, pengadaan komposter aerob, pendampingan pemasaran).

Keberhasilan usaha kecil tergantung pad keberhasilannya menuai hasil usahanya melalui pemasaran dari hasil usahanya. Tidak semua pelaku usaha mampu menciptakn pasar. Oleh karena itu, PT. Pertamina Hulu Energy WMO memberikan bantuan kepada para mitra binaannya di Kecamatan Gresik dalam pembentukan pasar atau jaringan pasar produk dan usaha dengan cara mengikutsertakannya dalam pameran-pameran yang bersifat lokal, maupun nasional. Keikutsertaan mereka dalam pameran, diharapkan dapat memudahkan akses ke pasar lokal maupun nasional.

Kesehatan

Kecamatan Gresik memiliki beberapa masalah dalam kesehatan, diantaranya fasilitas pengobatan, serta masalah gizi anak dan ibu. Kualitas pelayanan kesehatan dan kondisi kemampuan masyarakat tersebut mempengaruhi kualitas hidup mereka, khususnya generasi muda. Oleh karena itu, PT. Pertamina Hulu Energy WMO merancang beberapa program CSR di bidang kesehatan, diantaranya: (a) Peningkatan kesehatan

masyarakat, dengan mengadakan pelatihan pada puskesmas-puskesmas desa, mengadakan penyuluhan untuk masyarakat sekitar (diadakan 1x dalam sebulan) dan mengadakan pengobatan gratis dengan bekerja sama pada puskesmas-puskesmas terdekat, (b) Penanggulangan wabah demam berdarah, dengan mengadakan penyemprotan di desa-desa yang berada di sekitar lokasi perusahaan, (c) Posyandu, PT. Pertamina Hulu Energy WMO bekerjasama dengan puskesmas terdekat dalam hal penyuluhan tentang kesehatan anak dibawah 5 (lima) tahun dan ibu hamil/menyusui, serta pengadaan perlengkapan yang dibutuhkan oleh puskesmas untuk keberlangsungan kegiatan tersebut.

Pelestarian Lingkungan

Melihat kondisi geografis, Kecamatan Gresik merupakan daerah yang berada di pesisir pantai. Oleh karena itu, PT. Pertamina Hulu Energy WMO memilih daerah ini untuk dijadikan tempat strategis sebagai wilayah operasi perusahaan. Adanya kegiatan operasi perusahaan tersebut, maka sudah menjadi tanggungjawab PT. Pertamina Hulu Energy WMO untuk menjaga keseimbangan alam dengan cara melakukan kegiatan pelestarian lingkungan diantaranya sebagai berikut : (a) Penanaman 5.000 pohon mangrove di sekitar wilayah pesisir pantai, (b) pengelolaan limbah domestik, disini PT. Pertamina Hulu Energy WMO melakukan penyuluhan serta pengadaan peralatan komposter, (c) pendampingan program adiwiyata.

Perbaikan Fasilitas Umum

PT. Pertamina Hulu Energy WMO melakukan beberapa hal dalam perbaikan fasilitas umum, yaitu dengan penyediaan fasilitas air bersih, mengoptimalisasi fungsi

puskesmas dengan merenovasi dan pengadaan peralatan, pembangunan MCK, merenovasi kantor kecamatan, polres, polsek kodim, koramil, dan pembangunan sarana olahraga.

Program penyediaan fasilitas air bersih yang diberikan oleh PT. Pertamina Hulu Energy WMO lebih difokuskan kepada warga desa Macajah dan Bandangdajah mengingat kondisi masyarakat desa tersebut yang dengan keterbatasannya tidak mampu untuk membeli air bersih, sehingga PT. Pertamina Hulu Energy WMO bergerak untuk melakukan pencarian titik-titik air bersih untuk dilakukan pengeboran guna untuk pemasangan kran umum dan pembuatan sumur-sumur. Adanya hal tersebut, maka PT. Pertamina Hulu Energy WMO mengkoordinasi warga setempat untuk bersama-sama melakukan pengorganisasian dalam hala pengelolaan distribusi air bersih.

Peran Corporate Social Responsibility PT. Pertamina Hulu Energy WMO dalam

Pengembangan Masyarakat

Peningkatan Aset

Salah satu dampak dari program pengembangan masyarakat yang dilakukan oleh PT. Pertamina Hulu Energy WMO adalah meningkatnya aset yang dimiliki oleh para peserta program setelah berpartisipasi dalam program yang dilaksanakan. Pada dasarnya dapat disimpulkan bahwa terdapat 3 (tiga) karakteristik utama yang harus dipenuhi agar suatu objek dapat disebut aset, yaitu : (1) Manfaat ekonomik yang datang cukup pasti. Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek harus mengandung manfaat ekonomik di masa datang yang cukup pasti. Uang atau kas mempunyai manfaat atau potensi jasa karena daya belinya atau daya tukarnya. (2) Dikuasai atau dikendalikan entitas. Untuk dapat disebut sebagai aset, suatu objek atau pos tidak harus dimiliki oleh

entitas. Oleh karena itu, konsep penguasaan atau kendali lebih penting daripada konsep pemilikan. Penguasaan disini mempunyai arti sebagai kemampuan entitas untuk mendapatkan, memelihara/menahan, menukarkan, menggunakan manfaat ekonomi dan mencegah akses pihak lain terhadap manfaat tersebut. Hal ini dilandasi oleh konsep dasar substansi mengungguli bentuk yuridis (substance over form). Pemilikan

(ownership) hanya mempunyai makna yuridis atau legal. (3) Timbul akibat transaksi masa lalu. Kriteria ini sebenarnya menyempurnakan kriteria penguasaan dan sekaligus sebagai kriteria pengakuan objek sebagai aset. Penguasaan harus didahului oleh transaksi atau kejadian ekonomi. FASB memasukkan transaksi atau kejadian sebagai kriteria aset karena transaksi atau kejadian tersebut dapat menimbulkan (menambah) atau meniadakan (mengurangi) aset. Misalnya, perubahan tingkat bunga, penyusutan atau kecelakaan.

Tujuan dari penilaian aset adalah untuk merepresentasikan atribut pos-pos aset yang berpaut dengan tujuan laporan keuangan dengan menggunakan basis penilaian yang sesuai. Tujuan pelaporan keuangan sendiri adalah menyediakan informasi yang dapat membantu investor dan kreditor dalam menilai jumlah dan ketidakpastian aliran kas bersih ke badan usaha. Singkatnya, tujuan penilaian aset harus berpaut dengan tujuan pelaporan keuangan. Hal-hal yang termasuk aset antara lain Aset Sumber Daya Manusia, Aset Sumber Daya Fisik, Aset Sumber Daya Keuangan, Aset Sosial.

Jaringan Usaha

Perkembangan usaha dapat terlihat dan dapat bertahan jika penguasa memiliki jaringan usahsa yang semakin luas terus berkembang. Jaringan usaha adalah pembentukan komunitas yang menyukai produk yang dihasilkan, dimana dengan komunitas usaha

yang ada dapat lebih dikembangkan sehingga mempunyai ”lingkaran” usaha yang lebih besar lagi. Agar jaringan usaha dapat berkembang dengan luas maka diperlukan promosi. Promosi yang dilakukan akan sangat membantu usaha kecil untuk menjangkau pasar-pasar di luar lingkungan sosial. Promosi juga akan sangat efektif apabila dipadukan dengan upaya distribusi dan manajemen pengadaan. Manajemen pengadaan ini perlu dikaitkan dengan bimbingan untuk menjaga kestabilan mutu, jumlah produk yang ditawarkan, dan diversifikasi produksi sesuai perkembangan selera pasar.

Adanya ekspor yang dilakukan oleh para pengusaha kecil ini adalah karena mereka telah mengikuti pameran yang diadakan oleh PT. Pertamina Hulu Energy WMO. Pameran merupakan bagian dari pengiklanan hasil usaha yang pada sasarannya adalah untuk memperluas jaringan usaha dan pemasarannya. Di pameran ini para pembeli melihat hasil karya mereka dan tidak jarang mereka mendapatkan dampak dengan adanya pemesanan yang sangat banyak.

Pasar Kerja

Salah satu pihak yang paling utama di dalam suatu kegiatan usaha adalah pekerja. Tidak ada usaha yang dapat dikerjakan sendiri oleh pengusaha. Membentuk satu tim kerja yang memiliki keterampilan adalah salah satu kunci keberhasilan sebuah usaha untuk berkembang dengan cepat. Pekerja adalah seseorang yang melakukan pekerjaan dengan mengeluarkan energi, dengan tujuan untuk menghasilkan jasa atau produk, dengan mendapatkan upah baik secara bulanan maupun uang langsung. Definisi ini berbeda dengan definisi Depnaker yang hanya menyebutkan mendapat upah.

Pada sisi pekerja, meningkatnya orderan yang berjalan secara konsisten jelas berdampak terhadap penambahan jumlah tenaga kerja guna meningkatkan proses produksi dari segi kuantitas maupun kualitas barang yang dihasilkan. Peningkatan produksi harus juga diiringi oleh kesejahteraan para pekerjanya sehingga dapat dikatakan para pelaku usaha sudah membantu tugas pemerintah dalam mensejahterakan masyarakat serta penyediaan lapangan pekerjaan.

Tersedianya lapangan kerja di sektor informal merupakan suatu wadah penyelamat bagi pengangguran pada masa sekarang ini. Oleh karena itu, dapat dikatakan dalam realitas sosial ekonomi sekarang ini bahwa pelaku usaha kecil menengah selain berbuat untuk dirinya sendiri juga telah berbuat untuk orang lain dalam lingkup sebagai makhluk sosial.

Keahlian

Salah satu hal yang menjadi dampak peningkatan kesejahteraan masyarakat adalah peningkatan keahlian yang dimiliki oleh pengusaha kecil. Peningkatan yang dimaksud tidak hanya dari keterampilan saja, tetapi pengetahuan juga. Pendidikan tidak selalu lebih baik dari keeterampilan yang dimiliki dalam usaha kecil. Banyak pelatihan- pelatihan yang diadakan sebagai pendidikan kedua setelah pendidikan formal yang mengajarkan keterampilan lebih spesifik lagi, sehingga seseorang menjadi lebih ahli lagi dibidangnya. Mereka inilah yang memiliki bibit unggul untuk memilki karya yang lebih baik lagi daripada hanya mengikuti pendidikan formal di sekolah umum saja.

Dari program dan kegiatan yang dilaksanakan PT. Pertamina Hulu Energy WMO dalam hal pelatihan dan marketing, para pelaku usaha kecil menengah mendapatkan skill atau keterampilan yang semakin berkembang. Jika sebelumnya para

wirausaha hanya memiliki keahlian dasar dalam bidang produksi dengan peralatan yang terbilang biasa dan sederhana, maka dalam perkembangannya para wirausaha sudah memiliki keahlian dalam penggunaan perelatan modern. Selain itu ilmu marketing dan manajemen usaha yang baik juga didapatkan oleh para wirausaha. Mulai dari perencanaan yang jitu, teknik pemasaran, pengembangan usaha, sampai pada pengelolaan organisasi usaha yang solid dan berkualitas. Pada frekuensi waktu tertentu PT. Pertamina Hulu Energy WMO mengadakan training dan simulasi dalam mengukur perkembangan yang didapatkan oleh para pelaku usaha kecil menengah guna mengukur sampai sejauh mana peningkatan keahlian berusaha dan berbisnis pada periode waktu tertentu. Salah satu tolak ukur dari kemajuan yang diperoleh pelaku usaha adalah diikutsertakan dalam pameran usaha kecil menengah masyarakat pada level nasional maupun internasional. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi stimulus dalam mendongkrak keahlian dan kemajuan para pelaku usaha kecil menengah agar dapat lebih kreatif dan inovatif di masa sekarang ini guna mempertahankan eksistensinya dalam dunia usaha yang semakin kompetitif.

KESIMPULAN

Peran CSR PT. Pertamina Hulu Energy WMO dalam pengembangan masyarakat tidak hanya sebagai pihak perusahaan yang melakukan pembiayaan atau permodalan terhadap usaha kecil menengah tetapi sebagai suatu pemberdayaan potensi guna menunjang peningkatan produktifitas dan kesejahteraan ekonomi. Program Pengembangan Masyarakat ini diberikan oleh PT. Pertamina Hulu Energy WMO sebagai wujud tanggung jawab sosial yang diberikan khusus untuk masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar area produksi. Wujud PT. Pertamina Hulu Energy WMO

melaksanakan CSR adalah melalui Program Pengembangan Masyarakat yaitu dalam

bidang pendidikan, UKM, kesehatan, lingkungan, serta fasilitas umum. Adanya

program CSR tersebut sangat berperan dalam pengembangan masyarakat meliputi

peningkatan aset, perluasan jaringan usaha, perkembangan pasar kerja, serta

pengembangan skill yang sangat penting bagi pengusaha.

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Syafri Sofyan, 2007. Teori Akuntansi, Rajagrafindo Persada, Jakarta.

Hartanti, Dwi, 2006. Makna Corporate Social Responsibility : Sejarah dan Perkembangnnya, EBAR (Economic Business Accounting Review). Corporate Social Responsibility. Edisi III/September – Desember 2006.

Kiroyan, Noke, 2006. Good Corporate Governance (GCG) dan Corporate Social Responsibility (CSR) adakah kaitan diantara keduanya?, EBAR (Economic Business Accounting Review). Corporate Social Responsibility. Edisi III/September – Desember 2006.

Kiroyan, Noke. 2009. “CSR Compliance and Business Opportunities.” Materi presentasi disampaikan pada pertemuan Amerika Chamber in Indonesia, 26 Mei 2009.

Mardiyah dan Widyastuti, 2007. Pengaruh Stakeholder Terhadap Tanggung Jawab Sosial Dan Akuntansi Sosial, Simposium Riset Ekonomi III, Universitas PETRA Surabaya, hal 1-23.

Mirfazli dan Nurdiono, 2007. Evaluasi Pengungkapan Informasi Pertanggung Jawabab Sosial Pada Laporan Tahunan Perusahaan Dalam Kolompok Aneka Industri Yang Go Publik di BEJ, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 12 No.1, januari 2007, hal 1-11.

Musrifah, 2009. Penerapan Corporate Social Responsbility (CSR) Program Penggemukan Kambing di Desa Simpangan Kecamatan Cikarang Utara PT. Jababeka, Tesis, Universitas Diponegoro.

Suharto, Edi, 2006. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat: Kajian Strategis Pembangunan Kesejahteraan Sosial dan Pekerjaan Sosial (edisi ke-2), Bandung: Refika Aditama.

Suprianto, Thendri. 2009. “Spirit CSR di Segala Sektor”. Bisnis & CSR. Vol. 2 No. 9 Januari-Februari.

Suyanto, Bagong (Ed) dan Sutinah (Ed). 2005. Metode Penelitian Sosial Berbagai Alternatif Pendekatan. Kencana Prenada Media Group.

Undang-undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. 2007. Pemerintah Republik Indonesia.

Wibisono, Yusuf. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR. CV. Ashkaf Media Grafika Surabaya.

Pitaloka, Dini Arias. 2009. Peran serta Wanita dalam Mempelopori Gaya Hidup Berwawasan Lingkungan di RW 03 Kelurahan Pasar Minggu Jakarta Selatan, Tesis, Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universtitas Diponegoro, Semarang.