Share PDF

Search documents:
  Report this document  
    Download as PDF   
      Share on Facebook

Bidang Ilmu : Kesehatan

USUL PENELITIAN

DOSEN PEMULA

HUBUNGAN ANEMIA DAN HIPERTENSI DENGAN KEJADIAN ABORTIS DI RSUD DR. M ZEIN PAINAN TAHUN 2012

TIM PENGUSUL :

NAMA KETUA

: Welliyarti, S.Pd

NO.NIDN

: 1017126601

NAMA ANGGOTA TIM

:

1.Ns. Novriani Husna, S.Kep NIDN : 1029118602

2.Ns. Winda Resvi Juliana, S.kep NUPN : 9910676596

STIKes NAN TONGGA LUBUK ALUNG

MARET 2013

Winda Resvi Juliana

Hubungan Anemia dan Hipertensi dengan Kejadian Abortus di RSUD Dr. M Zein Painan Tahun 2012

ABSTRAK

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Prawirohardjo, 2008). Di Indonesia diperkirakan bahwa kontribusi abortus terhadap angka kematian ibu sebesar 30-40%, angka ini bisa lebih besar karena lebih banyak perempuan meninggal yang tidak dilaporkan, apalagi yang meninggal karena aborsi yang tidak aman (Sastrawinata, 2005). Diperkirakan juga 2-2,5 juta abortus terjadi di Indonesia setiap tahun (Manuaba, 2008). Pada tahun 2008 diperkirakan angka kejadian anemia pada ibu hamil sebesar 40,1% diantaranya disebabkan oleh defisiensi zat besi.

Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah semua ibu bersalin yang dirawat di RSUD Dr. M Zein Painan. pengumpulan data dengan format pengumpulan data dari hasil rekam medik. Jumlah sampel yang akan di ambil adalah 282 orang. Cara pengambilan sampel yaitu, simple random sampling dengan menggunakan tabel acak. dan analisis data menggunakan uji statistik Chi-Square dengan taraf signifikan p<0.05.

Daftar bacaan : 17 (1995-2009)

DAFTAR ISI

 

ABSTRAK

 

PERNYATAAN PERSETUJUAN…………………………………………. ...

i

KATA PENGANTAR ...................................................................................

ii

DAFTAR ISI .................................................................................................

iv

DAFTAR TABEL .........................................................................................

vi

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

vii

BAB I PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang .................................................................................

1

1.2

Perumusan Masalah ...........................................................................

4

1.3

Tujuan Penelitian ..............................................................................

4

1.4

Manfaat Penelitian ............................................................................

5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1

Abortus ..............................................................................................

7

2.2 Anemia dalam Kehamilan…………………………. ...........................

20

2.3

Hipertensi...........................................................................................

26

BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN

 

3.1

Kerangka Konsep...............................................................................

42

3.2

Hipotesa ............................................................................................

43

3.3 Definisi Operasional ..........................................................................

44

BAB IV METODE PENELITIAN

 

4.1

Jenis dan Desain Penelitian ...............................................................

45

4.2

Lokasi dan waktu penelitian ..............................................................

45

4.3

Populasi dan Sampel .........................................................................

45

4.4

Jenis dan cara Pengumpulan Data.......................................................

46

4.5Teknik Pengolahan data……………………………………................ 47

4.6Analisa Data………………………………………….. ...................... . 48

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di dunia angka kematian ibu dan bayi yang tertinggi adalah di Asia Tenggara. Laporan awal Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menyebutkan Angka Kematian Ibu (AKI) adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu saat ini masih jauh dari target yang harus dicapai pada tahun 2015 sesuai dengan kesepakatan sasaran pembangunan Millenium Development Golds/ MDGs (Marisah, dkk, 2011).

Ukuran untuk menilai baik buruknya pelayanan kebidanan (maternity care) dalam suatu Negara atau daerah ialah kematian maternal (maternal mortality) (Prawirohardjo, 2008). Kematian maternal merupakan masalah besar khususnya dinegara berkembang. Sekitar 98- 99% kematian maternal terjadi di negara berkembang, sedangkan dinegara maju hanya sekitar 1-2%, sebenarnya sebagian besar kematian dapat dicegah apabila diberi perrtolongan pertama yang adekuat (Manuaba, 2007).

Menurut WHO di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 4060 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilannya melakukan aborsi. Setiap tahun, sekitar 500.000 ibu mengalami kematian yang disebabkan oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50% diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang ilegal.

Sekitar 90% dari kematian tersebut terjadi di Negara berkembang termasuk Indonesia yang jumlah dan penyedian fasilitas pelayanan kesehatan propesionalnya masih relative kecil dan tidak merata (Tempo, 2007).

Menurut WHO, 40% kematian ibu Negara berkembang berkaitan dengan anemia dalam kehamilan kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi zat besi dan pendarahan akut bahkan tidak jarang keduanya saling berinteraksi (Prawirohardjo, 2008).

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram (Prawirohardjo, 2008). Di Indonesia diperkirakan bahwa kontribusi abortus terhadap angka kematian ibu sebesar 30-40%, angka ini bisa lebih besar karena lebih banyak perempuan meninggal yang tidak dilaporkan, apalagi yang meninggal karena aborsi yang tidak aman (Sastrawinata, 2005). Diperkirakan juga 2-2,5 juta abortus terjadi di Indonesia setiap tahun (Manuaba, 2008). Pada tahun 2008 diperkirakan angka kejadian anemia pada ibu hamil sebesar 40,1% diantaranya disebabkan oleh defisiensi zat besi.

Penyebab Abortus merupakan gabungan dari beberapa faktor umumnya, abortus ini didahului kematian janin. Faktor yang menyebabkan abortus ada 3 yaitu yang pertama faktor janin, kedua faktor maternal yang meliputi penyakit ibu seperti anemia, infeksi pneumonia, penyakit menahun ibu seperti hipertensi, penyakit ginjal, penyakit hati, penyakit diabetes mellitus, kelainan anomi uterus, paritas tinggi, usia, kebiasaan merokok, alcohol, spermatozoa, kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, kelainan pada plasenta dan minum kopi yang terlalu banyak dan yang ketiga faktor eksternal yang meliputi radiasi, obat-obatan dan bahan kimia (Sujitiyani, 2009).

Salah satu penyebab tinggi abortus spontan adalah anemia yang disebabkan karena gangguan nutrisi dan peredaran oksigen menuju sirkulasi utero plasenter sehingga dapat secara langsung mempengaruhi pertumbuhan janin dalam kandungan melalui plasenta (Prawiroharjo, 2008).

Faktor penyebab abortus lainnya adalah penyakit kronis yang menahun pada ibu salah satunya hipertensi, hipertensi berhubungan dengan abortus spontan, ibu yang hipertensi mempunyai risiko terjadi abortus spontan sebesar 3,609 kali lipat dibanding ibu yang tidak hipertensi, Hasil ini didukung dengan teori yang menyebutkan bahwa hipertensi mengakibatkan kurang baiknya prognosis pada janin yang disebabkan sirkulasi utero plasenta

kurang baik, sehingga janin bertumbuh kurang wajar, dilahirkan kurang matur atau mati dalam kandungan (winkjosastro, 2006).

Berdasarkan profil kesehatan Sumatra Barat tahun 2008 angka kematian ibu tercatat sebanyak 211,9 per 100.000 kelahiran hidup (Profil kesehatan Sumbar, 2008). Pada tahun 2009 jumlah abortus bedasarkan profil kesehatan Sumatra Barat sebanyak 2.123 orang dan jumlah anemia dalam kehamilan sebanyak 82,6% kekurangan gizi dan perhatian yang kurang terhadap ibu. Dari medical record RSUD Dr. Muhammad Zein didapatkan jumlah ibu bersalin pada tahun 2010 sebanyak 1226 persalinan, sehingga didapatkan ibu yang mengalami abortus sebanyak 2.6 %, pada tahun 2011 didapatkan jumlah ibu bersalin 707 sehingga didapatkan ibu yang mengalami abortus sebanyak 1,2 %.

Berdasarkan survey awal yang penulis lakukan wawancara dengan kepala subag RSUD Dr. Muhammad Zein Painan bahwa kabupaten Pesisir Selatan merupakan angka kematian ibu tertinggi kedua di Sumatera Barat, dan wawancara dengan perawat yang bertugas di bangsal kebidanan RSUD Dr Muhammad Zein Painan, bahwa kejadian abortus banyak terjadi pada ibu yang anemia di bangsal kebidanan RSUD Dr Muhammad Zein Painan. Dari 10 ibu yang bersalin di kamar bersalin terdapat 3 ibu yang mengalami abortus dan penyebab dari abortus tersebut banyak dikarenakan ibu anemia, penyakit kronis dan penyakit lainnya.

Berdasarkan gambaran latar belakang yang telah diuraikan diatas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang Hubungan Anemia dan Hipertensi dengan kejadian Abortus di RSUD dr. M. Zein Painan tahun 2012.

1.2Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi permasalahan adalah Apakah ada

hubungan Anemia dan Hipertensi dengan kejadian Abortus di RSUD dr. M. Zein Painan

tahun 2012.

1.3 Tujuan penelitian

1.3.1Tujuan umum

Untuk mengetahui hubungan anemia dan hipertensi dengan kejadian abortus di RSUD dr. M. Zein Painan tahun 2012.

1.3.2Tujuan Khusus

1.3.2.1Diketahui distribusi frekuensi anemia pada ibu hamil di RSUD dr. M. Zein Painan tahun 2012.

1.3.2.2Diketahui distribusi frekuensi hipertensi di RSUd dr. M. Zein Painan tahun 2012.

1.3.2.3Diketahui distribusi frekuensi abortus pada ibu hamil di RSUD dr. M. Zein Painan tahun 2012.

1.3.2.4Diketahui hubungan anemia pada ibu hamil dengan kejadian abortus di RSUD dr. M. Zein Painan tahun 2012.

1.3.2.5Diketahui hubungan hipertensi dengan kejadian abortus di RSUD dr. M. Zein Painan tahun 2012.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1Bagi peneliti

Sebagai media bagi peneliti dalam menerapkan pendidikan dan teori yang telah didapatkan di bangku perkuliahan serta dapat menambah wawasan peneliti dalam mempersiapkan, mengumpulkan, mengolah, menganalisis dan menginformasikan apa yang ditemukan.

1.4.2Bagi Pembaca

Memberikan masukan pada pembaca tentang hal-hal yang mempengaruhi abortus.

1.4.3Bagi institusi pendidikan

Sebagai masukan bagi institusi pendidikan dan sebagai pedoman untuk penelitian

selanjutnya.

1.5Ruang Lingkup

Penelitian ini akan dilakukan pada bulan April - mei di RSUD Dr. M. Zein Painan untuk mengetahui hubungan anemia dan hipertensi dengan kejadian Abortus di RSUD dr. M. Zein Painan tahun 2012, maka data dikumpulkan dengan menggunakan Penelitian ini yang bersifat survey analitik.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Abortus

2.1.1Pengertian

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin hidup diluar

kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gr (Prawirohardjo, 2009)

Abortus atau keguguran adalah terhentinya proses kehamilan yang sedang berlangsung sebelum mencapai umur 28 minggu atau berat janin sekitar 500 gram (Manuaba, 2007)

Abortus atau keguguran adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat bertahan hidup, yaitu sebelum kehamilan berusia 22 minggu atau berat janin belum mencapai 500 gr. Abortus biasanya ditandai dengan terjadinya perdarahan pada wanita yang sedang hamil, dengan adanya peralatan USG, sekarang dapat diketahui bahwa abortus dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yang pertama adalah abortus karena kegagalan perkembangan janin dimana gambaran USG menunjukan kantong kehamilan yang kosong sedangkan jenis kedua adalah abortus karena kematian janin, dimana janin tidak menunjukan tanda-tanda kelahiran hidup seperti denyut jantung atau pergerakan yang sesuai dengan usia kehamilan (Obsetric patologi FK UNPAD).

Abortus adalah ancaman pengeluaran hasil konsepsi (pertemuan sel telur dan sel sperma) pada usia kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram, sebelum janin dapat hidup diluuar kandungan (Nukroho, 2011).

2.1.2 Etiologi

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan abortus antara lain (Rukiyah, 2010) : a. Faktor janin

Faktor kelainan yang paling sering dijumpai pada abortus adalah gangguan pertumbuhan zigot, embrio, janin atau plasenta.

Kelainan tersebut biasanya menyebabkan abortus pada trimester pertama, yaitu :

1.Kelainan telur, telur kosong, kerusakan embrio atau kelainan kromoson.

2.Embrio dengan kelainan lokal.

3.Abnormalitas pembentukan plasenta (hipoplas trofoblas).

b.Faktor ibu

1.Faktor kekebalan (imunologi) misalnya pada penyakit lupus.

2.Infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak jerman, toksoplasma, herpes dan klamidia.

3.Kelemahan otot leher rahim.

4.Kelainan bentuk rahim.

c.Faktor bapak

Kelainan kromoson dan infeksi sperma diduga dapat menyebabkan abortus.

d.Faktor genetik

Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetic, paling sering ditemukan kromosom trisonomi dengan trisonomi 16. Penyebab yang paling sering menimbulkan abortus spontan adalah abnormalitas kromosom pada janin.

e.Faktor infeksi

Infeksi termasuk infeksi yang disebabkan oleh TORC (toxoplasma, rubella, cytomegalovirus) dan malaria. Infeksi intra uteri sering dihubungkan dengan abortus spontan berulang.

f.Factor endoktrin

g.Hipertiroidiismus, diabetes militus dan defisiensi progesterone.

h.Faktor imunologi, terdapat antibbodikardiolipid yang mengakibtkan pembekuan darah dibelakang ari- arii sehingga mengakibatkan kematian janin karena kurangnya darah dari ari- ari tersebut.

i.Faktor nutrisi, malnutrisi umum yang sangat berat memiliki kemungkinan paling besar menjadi predisposisi abortus.

Menurut Prawirohardjo; 2009 Penyebab abortus bervariasi dan sering diperdebatkan. Umumnya lebih dari satu penyebab. Penyebab terbanyak adalah diantaranya sebagai berikut :

a.Penyebab genetik, sebagian besar abortus spontan disebabkan oleh kelainan kariotip embrio. Paling sedikit 50% kejadian abortus pada trimester pertama merupakan kelainan sitogenik. Bagaimanapun, gambaran ini belum termasuk kelainan yang disebabkan oleh gangguan gen tunggal (misalnya kelainan mendelian) atau mutasi pada beberapa lokus ( misalnya gangguan poligenik atau multifacto) yang tidak terdeteksi dengan pemeriksaan kariotip (Prawirohardjo, 2009).

b.Penyebab anatomik, penyebab terbanyak abortus karna kelainan anatomic uterus adalah septum uterus (40-80%), kemudian uterus bikornis atau uterus didelfis atau unikornis (10-30%).

c.Anemia, umumnya ibu hamil dianggap anemia jika kadar hemoglobinnya dibawah 11 gr % dalam kehamilan memiliki pengaruh yang kurang baik baik bagi ibu maupun janin.

d.Penyakit infeksi, penyakit infeksi dapat menyebabkan abortus. Infeksi maternal dapat membawa risiko bagi janin yang sedang berkembang terutama pada awal trimester pertama atau trimester kedua. Penyakit-penyakit infeksi

yang dapat menyebabkan abortus diantaranya adalah campak, hepatitis,

malaria dan toxsoplasmosis.

2.1.3.Patologi abortus

Pada permulaan terjadi pendarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh nekrosis

jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi terlepas. Karena dianggap benda asing, maka uterus berkontraksi untuk mengeluarkannya. Pada kehamilan dibawah 8 minggu, hasil konsepsi dikeluarkan seluruhnya, karena vili korealis belum menembus desidua terlalu dalam, sedangkan pada kehamilan 8 sampai 14 minggu, telah masuk agak dalam, sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal, karna itu akan banyak terjadi pendarahan. Pendarahan jumlahnya tidak banyak jika plasenta terlepas segera dan terlepas dengan lengkap (Prawirohardjo,2009).

Pada awal abortus terjadi pendarahan dalam desidua basalis, diikuti nekrosis jaringan yang menyebabkan hasil konsepsi terlepas dan dianggap benda asing dalam uterus. Sehingga menyebabkan uterus berkontraksi untuk mengeluarkan benda asing tersebut. Apabila pada kehamilan kurang dari 8 minggu, nilai khorrialis belum menembus disidua serta mendalam sehingga hasil konsepsi dapat dikeluarkan seluruhnya. Apabila kehamilan 8- 14 minggu villi khoriasli sudah menembus terlalu dalam hingga plasenta tidak dapat dilepaskan sempurna dan menimbulkan banyak pendarahan dari plasenta. Pendarahan tidak banyak jika plasenta dan lengkap. Peristiwa ini menyerupai persalinan dalam bentuk miniiatur (Rukiyah, 2010)

Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk, ada kalanya kantung amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum) mungkin pula janin telah mati lama. Apabila mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang singkat, maka ia dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah. Ini uterus dinamakan mola krenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa apabila pigmen telah diserap dalam sisanya terjadi organisasi, sehingga semuanya tampak seperti daging. Bentuk lain

adalah mola tuberose dalam hal ini amnion tampak benjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan khorion.

Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses modifikasi janin mengering dan arena cairan amnion menjadi kurang oleh sebab diserap. Ia akan agak gepeng( fetus kompresus). Dalamtingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas pigmenperkamen (Rukiyah, 2010). Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak lekas dikeluarkan ialah terjadi maserasi, kulterklapas, tengkorang menjadi lembek, perut membesar karena cairan dan seluruh janin bewarna kemerah-merahan (Prawirohardjo, 2009).

2.1.4Jenis- jenis Abortus

1.Abortus spontan

Adalah abortus yang terjadi dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis ataupun medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.

2.Abortus buatan

Adalah tindakan abortus yang sengaja dilakukan untuk menghilangkan kehamilan

sebelum umur 28 minggu atau berat janin 500 gram.

a.Abortus provokator medisinalis.

Abortus yang dilakukan atas dasar indikasi vital ibu hamil, jika diteruskan, kehamilannya akan lebih membahayakan jiwa sehingga terpaksa dilakukan abortus buatan.

b.Abortus provokatus kriminalis

Abortus yang dilakukan pada kehamilan yang tidak diinginkan, diantaranya akibat perbuatan yang tidak bertanggung jawab.

2.1.5Abortus secara klinis

Abortus secara klinis menurut Manuaba, 2007 :

1.Abortus imminen Gejala :

a.Terasa nyeri atau kram pada abdomen ringan

b.Disertai pendarahan ringan atau encer

c.Pemeriksaan dalam / spekulumnya :

a)Ø tertutup

b)Hegar positif

c)Piscasek positif

d)Chadwieck positif d. Tes kehamilan positif Terapi :

a.Sebaiknya istirahat total

b.Terutama yang pernah abortus

c.Terapi medika mentosa :

a)Sedative ringan

b)Hormone plasento genik hormonal : duphaston, gestanon dan premaston

c)Relaksans

d)Duphadilans

d.Kegagalan terapi akan beruah menjadi abortus inspien

2.Abortus inspien Gejala :

a.Terasa nyeri, kram berat

b.Pendarahan banyak bahkan disertai gumpalan

c.Pemeriksaan dalam :

a)Ø sudah ada

b)Ketuban menonjol

c)Terasa kontraksi uterus berlanjut

d. Tes hamil mungkin masih positif Terapi :

a.Abortus sudah tidak mungkin dihindari sehingga sebaiknya diikuti dengan terminasi.

b.Mempercepat proses kontraksi otot uterus sehingga pendarahan dapat dihentikan.

3.Abortus Inkomplet Gejalanya :

a.Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian masih berada dalam uterus.

b.Merupakan ancaman terjadi pendarahan.

c.Pemeriksaan dalam :

a)Ø masih ada, mungkin teraba jaringan sisa

b)Pendarahan mungkin makin bertambah setelah pemeriksaan dalam.

d.Tes kehamilan mungkin masih positif, tetapi hamil tidak dapat dipertahankan.

Terapi :

a.Bahaya pendarahan selalu akan mengancam sehingga dilakukan pengeluaran hasil sisa konsepsi dengan kuretase.

b.Untuk kepastian sebaiknya diperiksa PA

c.Terapi tambahan dalam bentuk :

a)Infuse cairan pengganti

b)Transfusi darah

c)Antibiotic IV/IM dan uterotonika sehingga pendarahan segera dapat diatasi.

4.Abortus Komplet Gejalanya

a.Pendarahan sudah minimal

b.Jaringan sudah ekspulsi total

c.Besarnya uterus mendekati normal

d.Pemeriksaan dalam

a)Ø masih ada,jaringan kosong

b)Pendarahan minimal

Terapinya :

a.Sebagian ahli berpendapat, oleh karena sudah lengkap ekspulsi, tidak perlu dibersihkan dengan kuretase.

b.Akan tetapi, sebaiknya dilakukan kuretase sehingga bersih

c.Ketinggalan sisa konsepsi menimbulkan bahaya :

a)Pendarahan berlangsung lama

b)Bahaya infeksi makin meningkat, dapat diikuti infertilita

c)Degenerasi ganas menjadi khorio-Ca.

2.1.6 Komplikasi

Komplikasi yang paling berbahaya pada abortus adalah :

a. Perdarahan

Perdarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi dan jika perlu pemberian transfusi darah. Kematian karena pendarahan dapat terjadi apabila pertolongan telah diberikan pada waktunya.

b.Perforasi

Perforasi kerokan dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi hipertrofleksi. Jika terjadi peristiwa ini, penderita perlu diamati dengan teliti. Jika ada tanda bahaya, perlu segera dilakukan laparatomi dan tergantung dari luas dan bentuk perforasi, penjahitan luka perforasi.

c.Infeksi

Infeksi dalam uterus dan adexa dapat terjadi dalam setiap abortus, tetapi biasanya didapatkan pada abortus inkomplit yang berkaitan erat dengan suatu abortus yang tidak aman (unsafe abrotion).

d.Syok

Syok pada abortus bisa terjadi karena perdarahan (syok hemoragik) dan karena infeksi berat (syok endoseptik) (Sujiyatini, 2009).

2.1.7 Penanganan

Secara umum penanganan dilakukan sebelum melakukan penanganan secara khusus atau spesifik, lakukan penanganan awal terlebih dahulu yang terkena abortus antara lain (Rukiyah, 2010) :

a.Lakukan penilaian secara tepat mengenai keadaan umum pasien, ttermasuk tanda- tanda vital ( nadi, tekanan darah, pernapasan dan suhu).

b.Periksa tanda- tanda syok (pucat, berkeringat banyak pingsan, tekanan sistolik kurang dari 90 mmHg, nadi lebih cepat dari 112 kali/menit).

c.Jika dicurigai terjadi syok, segera mulai penangganan syok. Jika tidak terlihat tanda-tanda syok, tetap pikirkan kemungkinan tersebut saat penolong melakukan

evaluasi mengenai kondisi wanita karena kondisinya dapat memburuk dengan

cepat.

d.Pasang infuse dengan jarum besar (16 G atau lebih besar), berikan larutan garam fisiologik atau ringer laktat dengan tetesan cepat ( 500 ml dalam 2 jam pertama). Kemudian setelah diketahui abortus apa yang terjadi segera lakukan penanganan

yang spesifik sesuai abortus yang terjadi.

Penanganan secara spesifik :

1. Abortus imminens

a.Istirahat baring

Tidur terbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan karena cara ini menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan berkurangnya rangsangan mekanik.

b.Periksa denyut nadi dan suhu badan 2x sehari bila pasien tidak panas dan tiap 4 jam bila pasien panas.

c.Tes kehamilan dapat dilakukan dan pemeriksaan USG untuk menetukan lebih pasti apakah janin masih hidup.

d.Pemberian obat penenang.

e.Diet tinggi protein dan viramin C.

f.Bersihakn vulva minimal 2x sehari dengan cairan antiseptik untuk mencegah

infeksi terutama saat masih menhgeluarkan cairan coklat.

PRINSIP

Perdarahan pervaginam pada kehamilan kurang dari 12 minggu :

a)Jangan langsung di curate.

b)Tentukan dulu janin mati atau hidup.

c) Jangan terpengaruh hanay hasil B-HSG yang positif, karena meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah kematian janin.

2. Abortus insipiens

a.Bila perdarahan tidak banyak, tunggu terjadinya abortus spontan tanpa pertolongan selama 36 jam dengan diberi morfin.

b.Pada kehamilan kurang darin 12 minggu, yang biasanya disertai perdarahan, tangani dengan pengosongan uterus memakai kuret vakum atau cunam abortus, disusul dengan korekan memakai kuret tajam, Suntikan ergometrin 0,5 mg IM.

c.Pada kehamilan lebih dari 12 minggu, berikan infus oksitosin 10 IU dalam deksrtose 5 % 500 ml dimulai 8 tetes/menit dan naikkan sesuia kontraksi uterus sampai terjadi abortus komplit.

d.Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran

plasenta secara manual.

PRINSIP

Perdarahan pervaginaman pada kehamilan kurang dari 12 minggu :

a.Jangan langsung di curate.

b.Tentukan dulu janin mati atau hidup.

c.Jangan terpengaruh hanay hasil B-HSG yang positif, karena meskipun janin sudah mati, B-HCG mungkin masih tinggi, bisa bertahan sampai 2 bulan setelah

kematian janin.

3. Abortus inkomplit

a.Bila disertai syok karena pendarahan, berikan infus cairan NaCl fisiologis atau ringer laktat dan selekas mungkin ditransfusi darah.

b.Setelah syok diatasi, lakukan kerokan dengan kuret tajam lalu suntikkan ergometrin 0,2 mg secara IM.

c.Bila janin sudah keluar, tetapi plasenta masih tertinggal, lakukan pengeluaran plasenta secara manual.

d.Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.

4. Abortus komplit

a.Bila kondisi pasien baik, berikan ergometrin 3 x 1 tablet selama 3-5 hari.

b.Bila pasien anemia, berikan hematinik seperti sulfas ferosus atau transfusi darah.

c.Berikan antibiotik untuk mencegah infeksi.

d.Anjurkan pasien diet tinggi protein, vitamin dan mineral.

2.2 Anemia dalam kehamilan

2.2.1 Definisi

Biasanya selama kehamilan, terjadi hyperplasia erythroid dari sum-sum tulang, dan meningkat masa RBC. Namun peningkatan yang tidak proporsional dalam hasil volume plasma menyebabkan hemodilusi (hidremia kehamilan): Hct menurun dari 38 dan 45% pada wanita sehat yang tidak hamil sekitar 34% selama kehamilan tunggal dan sampai 30% selama akhir kehamilan multifetal. Jadi selama kehamilan, anemia didefenisikan sebagai Hb 10 g </ dL ( Ht <30%). Jika Hb <11,5 g/dL pada awal kehamilan, wanita mungkin perlu diberikan obat profilaktik karena hemodilusi berikutnya biasanya mengurangi kadar Hb untuk <10 g/dL. Meskipun hemodilusi, kapasitas pembawa 02 tetap normal ddalam kehamilan. Hct biasanya meningkat segera setelah melahirkan (Atikah, 2011).

Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar hemoglobin < 10,5 gr% pada trimester II ( Depkes RI,

2009 ). Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney, 2007 ).

Anemia merupakan suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal, pada penderta anemia, lebih sering disebut kurag darah, kadar sel darah merah atau hemoglobin dibawah nilai normal.

Penyebabnya bisa karna kurangnya zat gizi untuk pembekuan darah, misalnya zat besi, asam folat dan B12. Tetapi yang sering terjadi adalah anemia karena kekurangan zat besi (Rukiyah, 2010).

Anemia defisiensi besi adalah anemia yang disebabkan karena kurangnya defisiensi zat besi dalam tubuh, sehingga kebutuhan zat besi (Fe) untuk eritropoesis tidak cukup yang ditandai dengan gambaran sel darah merah hipokrom-mikrositer, kadar besi serum (serum iron), dan jenuh transferin menurun, kapasitas besi total meninggi dan cadangan besi dalam sumsum tulang serta ditempat yang lain sangat kurang atau tidak ada sama sekali (Rukiyah, 2010).

Banyak faktor yang menyebabkan timbulnya anemia defisiensi besi antara lain kurangnya asupan zat besi dan protein dari makanan, adanya gagguan absorbsi di usus, pendarahan akut maupun kronis, dan menigkatnya kebutuhan zat besi seperti pada wanita hamil, masa pertumbuhan dan masa penyembuhan penyakit.

2.2.2 Patofisiologi Anemia dalam Kehamilan

Perubahan hematologi sehubungan dengan kehamilan adalah oleh karena perubahan sirkulasi yang semakin meningkat terhadap plasenta dan pertumbuhan payudara. Volume plasma meningkat 45-65% dimulai dari trimester II kehamilan, dan maksimum terjadi pada bulan ke-9 dan meningkat sekitar 1000 ml, menurun sedikit menjelang aterm serta kembali

normal 3 bulan setelah partus. Stimulasi yang meningkatkan volume plasma seperti laktogen plasma, yang menyebabkan peningkatan aldesteron (Rukiyah, 2010).

2.2.3 Etiologi anemia dalam kehamilan

Hipervolemia, menyebabkan terjadinya pengenceran darah, pertambahan darah tidak sebanding dengan pertambahan plasma, kurangnya zat besi dalam makanan, menyebakan kebutuhan zat besi meningkat.

2.2.4 Gejala klinis anemia dalam kehamilan

Gejala awal biasanya tidak ada atau tidak spesifik (misalnya, kelelahan, kelemahan, pusing, diispenea ringan dengan tenaga). Gejala dan tanda lain mungkin termasuk pucat dan, jika terjadi anemia berat, akan mengalami takikardi atau hipotensi. Anemia menigkatkan resiko kelahiran premature dan infeksi ibu postpartum.

Banyak gejala anemia selama kehamilan meliputi (Atikah, 2011):

a.Merasa lemah atau lelah

b.Kulit pucat progresif dari kulit

c.Denyut jantung cepat

d.Sesak napas

e.Konsentrasi terganggu

Menurut Rukiyah ; 2010 Gejala klinis anemia sangat berrvariasi gejala- gejala dapat berupa :

a.Kepala pusing

b.Palpitasi

c.Mata berkunang-kunang

d.Perubahan jaringan epitel kuku

e.Gangguan system neurumuskular

f.Lesu, lemah, lelah

g.Disphagia

h.Pembesaran kalenjer limfa.

i.Dan lainnya

Bila kadar Hb < 7 gr/dl maka gejala-gejala dan tanda-tanda anemia akan jelas. Nilai ambang batas untuk menentukan status anemia ibu hamil, didasarkan pada kriteria yang ditetapkan 3 kategori yaitu :

1.Normal jika >11 gr/dl

2.Ringan jika 8- 11 gr/dl

3.Berat jika < 8 gr/dl

2.2.5Dampak anemia pada kehamilan

Anemia pada ibu hamil bukan tanpa resiko menurut penilitian, tingginya angka

kematian ibu berkaitan erat dengan anemia.

Anemia juga menyebabkan rendahnya kemampuan jasmani karena sel-sel tubuh tidak cukup mendapat pasokan oksigen. Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Resiko kematian maternal, angka prematusritas, berat badan lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat.

Pendarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah.

Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadi gangguan kelangsungan kehamilan (abortus, partus immature atau premature), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas ( sub involusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stress, kurang prooduksi ASI

rendah), gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian perinatal,

dll) (Rukiyah , 2010).

2.2.6Pengobatan dan pencegahan anemia dalam kehamilan

Perawatan diarahkan untuk mengtasi anemia, tranfusi darah biasanya dilakukan untuk

setiap anemia jika gejala yang dialami cukup parah ( misalnya, sakit kepala ringan kelemahan, kelelahan) atau terdapat gejala atau tanda-tanda gangguan kardiopulmonal (misalnya, dyspnea, takikardi, tachyypnea), maka keputusan tidak diidasarkan pada kadar hct tersebut (Atikah, 2011)

Memaksimalkan penyerpan besi adalah penting untuk memperhatikan apa yang diminum bersaman dengan tablet besi. Mengkonsumsi vitamin yang kaya vitamin C bersama dengan zat besi akan meningkatkan penyerapan besi. Namun mengambil minuman berkafein bersama denggan minuman makanan zat besi akan mengurangi jumlah zat besi yang diserap tubuh. Makanan dengan seperti dan buah jeuk dapat membantu tubuh menyerap zat besi.

Makan makanan ini dengan makanan yang tinggi zat besi untuk membantu penyerapan sebagai contoh, jika tubuh menkonsumsi tablet besi, bawa dengan jus jeruk atau makanan lain yang tinggi akan vitamin C. beberapa makanan dapat menghalangi penyerapan zat besi. Ini termasuk susu, protein kedelai, kuning telur, kopi dan the.

Hindari makanan ini saat makan makanan kaya zat besi. Antasida dan beberapa obat lain yang mengandung kalium juga menghalangi penyerapan zat besi (Atikah, 2011).

Pencegahan anemia dalam kehamilan adalah dengan nutrisi, nutrisi adalah cara terbaik untuk mencegah terjadinya anemia jika sedang hamil atau mencoba menjadi hamil. Makan makanan yang tinggi kandungan zat besi seperti sayuran berdaun hijau, daging merah, sereal, telur, dan kacang tanah dapat membantu memastikan bahwa tubuh menjaga pasokan besi yang diperlukan untuk berfungsi dengan baik. Pemberian vitamin untuk memastikan bahwa tubuh memiliki cukup asam besi dan folat. Pastikan tubuh mendapatkan setidaknya 27

mg zat besi setiap hari. Jika mengalamii anemia selama kehamilan, biasanya dapat diobati dengan mengambil suplemen besi. Pastikan bahwa wanita hamil di cek pada kunjunggan pertama kehamilan untuk pemeriksaan anemia.

Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe atau Zat Besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kira-kira 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg. Selama kehamilan seorang ibu hamil menyimpan zat besi kurang lebih 1.000 mg termasuk untuk keperluan janin, plasenta dan hemoglobin ibu sendiri.

Kebijakan nasional yang diterapkan di seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat adalah pemberian satu tablet besi sehari sesegera mungkin setelah rasa mual hilang pada awal kehamilan.

Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 μg,

minimal masing-masing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya tidak diminum bersama teh atau

kopi, karena akan mengganggu penyarapannya ( Depkes RI, 2009).

2.2.7Hubungan anemia dengan Abortus

Banyak hal yamg berkemungkinan dapat dinyatakan sebagai yang berhubungan

dengan abortus diantaranya Anemia, anemia pada saat hamil dapat mengakibatkan efek yang buruk baik pada ibu maupun pada janin. Anemia dapat mengurangi suplai oksigen pada metabolisme ibu karena kekurangan kadar hemoglobin untuk mengikat oksigen yang dapat mengakibatkan efek tidak langsung pada ibu dan janin antara lain terjadinya abortus, selain itu ibu lebih rentan terhadap infeksi dan kemungkinan bayi lahir premature (Saifuddin,2006)

Anemia berhubungan dengan abortus spontan. Ibu hamil anemia mempunyai risiko terjadi abortus spontan sebesar 7, 554 kali lipat dibandingkan ibu yang tidak anemia. Hasil ini sesuai dengan hasil penelitian Fitriyani (2007) yang menyebutkan ada hubungan anemia dengan abortus spontan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta.

2.3 Hipertensi

2.3.1Pengertian

Hipertensi adalah tekanan darah sistolik dan diastolik ≥ 140/90 mmHg. Pengukuran

tekanan darah sekurang-kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam. Kenaikan tekanan darah sistolik ≥ 30 mmHg dan kenaikan tekanan darah diastolik ≥ 15 mmHg (Prawihardjo, 2010 ).

Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15% penyulit kehamilan dan merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu bersalin. Hipertensi dalam kehamilan (PIH) adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pascapersalinan atau kehamilan dengan tanda-tanda preeklampsia tetapi tanpa proteinuria (Prawihardjo, 2010 ).

Hipertensi dalam kehamilan (PIH) ialah tekanan darah sistolik dan diastolik ≥ 140/90 mmHg atau lebih untuk pertama kali selama kehamilan, dimana usia kehamilan > 20 minggu, pengukuran tekanan darah sekurang-kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam, tidak terdapat adanya proteinuria dan tekanan darah kembali normal setelah 12 minggu pascapartum (Williams, 2009).

Hipertensi dalam kehamilan (PIH) adalah tekanan darah ≥140/90 mmHg saat pemeriksaan pertama, tidak dijumpai proteinuria dimana tekanan darah kembali normal setelah 12 minggu postpartum, diagnosa terakhir hanya dibuat setelah post partum, mungkin dijumpai gejala preeklampsia (Manuaba, 2007).

Hipertensi dalam kehamilan mencakupi hipertensi karena kehamilan dan hipertensi kronik (meningkatnya tekanan darah sebelum usia kehamilan 20 minggu) tanpa proteinuria. Nyeri kepala, kejang dan hilangnya kesadaran sering berhubungan dengan hipertensi dalam kehamilan. Tekanan diastolik merupakan indikator untuk prognosis pada penanganan hipertensi dalam kehamilan, tekanan diastolik mengukur tahanan perifer dan tidak

dipengaruhi oleh keadaan emosi pasien, jika tekanan diastolik ≥90 mmHg pada dua pemeriksaan berjarak 4 jam atau lebih diagnosisnya adalah hipertensi.

Pada urgen, tekanan diastolik 110 mmHg dapat dipakai sebagai dasar diagnosis. Jika hipertensi terjadi pada kehamilan > 20 minggu, pada persalinan , atau dalam 48 jam sesudah persalinan diagnosisnya adalah hipertensi dalam kehamilan, jika hipertensi terjadi pada kehamilan < 20 minggu diagnosisnya adalah hipertensi kronik (Saifuddin, 2010).

2.3.2Klasifikasi hipertensi dalam kehamilan sebagai berikut:

1.Hipertensi Gestasional adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan pascapersalinan atau kehamilan dengan tanda-tanda preeklampsia tetapi tanpa proteinuria.

2.Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia adalah hipertensi kronik dengan tanda-tanda preeklampsia atau hipertensi kronik disertai proteinuria.

3.Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejan-kejang dan/atau koma.

4.Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan disertai dengan proteinuria .

5.Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu atau hipertensi yang pertama kali di diagnosis setelah umur kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pasca persalinan (Prawirohardjo,2010).

2.3.3Kriteria hipertensi dalam kehamilan :

Dibawah ini akan dijelaskan kriteria hipertensi dalam kehamilan yaitu:

1.Kenaikan tekanan darah 30 mmHg untuk sistolik atau 15 mmHg untuk diastolic

2.Tekanan darah absolut 140/90 mmHg sesaat dengan interval 6 jam

3.Terdapat oedema atau kenaikan berat badan lebih dari ¾ Kg /setiap minggu

4.Terdapat proteinuria

5.Terdapat /disertai konvulasi atau koma

Keberadaan proteinuria sangat menentukan preeklampsia yang menunjukkan bahwa kerusakan telah mencapai tingkat gromelurus ginjal sehingga fungsinya mulai menurun atau bersifat patologis.

Hipertensi sangat menentukan tingkat kematian perinatal karena dapat terjadi minimal:

1.Gangguan tumbuh kembang janin intrauteri akibat pertumbuhan plasenta yang terlalu kecil atau terjadi infark yang luas.

2.Terjadi solusio plasenta yang melebihi sekitar 1/3 luas plasenta

3.Penyebab utama kematian intrauterin adalah terjadinya insufisiensi plasenta yang menahun atau solusio plasenta (Manuaba,2007).

2.3.4Faktor Risiko

Terdapat banyak faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang

dapat dikelompokkan dalam faktor risiko sebagai berikut:

1.Usia

2.Paritas

3.Hiperplasentosis, misalnya : mola hidatidosa, kehamilan multiple, diabetes mellitus, hidrops fetalis, bayi besar.

4.Riwayat keluarga pernah pre eklampsia/ eklamsia

5.Penyakit penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil

6.Obesitas (Prawirohardjo, 2010).

2.3.5Etiologi

Menurut Corwin (2001) : peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan volume sekuncup/curah jantung yang bermasalah lama, peningkatan tekanan perifer yang berlangsung lama (Rukiyah, 2010).

Penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan jelas. Banyak teori telah di kemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam hehamilan tetapi tidak ada satupun teori tersebut di anggap mutlak benar. Teori teori yang sekarang banyak di anut adalah

1. Teori Kelainan Vaskularisasi Plasenta

Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapat aliran darah dari cabang cabang arteri uterine dan arteria ovarika. Kedua pembuluh darah tersebut menembus miometrium berupa arteri arkuarta dan arteri arkuarta memberi cabang arteri radialis. Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis dan arteri basalis memberi cabang arteri spiralis.

Pada hamil normal dengan sebab yang belum jelas, terjadi invasi trovoblas ke dalam lapisan otot arteria spiralis, yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut sehingga terjadi dilatasi arteria spiralis. Infasi trofoblas juga memasuki jaringan sekitar arteri spiralis, sehingga jaringan matriks menjadi gembur dan memudahkan lumen arteri spiralis mengalami distensi dan dilatasi. Distensi dan vasodilatasi lumen arteri spiralis ini memberi dampak penurunan tekanan darah, penurunan resistensi vascular, dan peningkatan aliran darah pada daerah utero plasenta. Akibatnya, aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Prose ini dinamakan “remodeling arteri spiralis”.

Pada hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel sel trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot arteri spiralis

menjadi tetap kaku dan keras sehingga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan fasodilatasi. Akibatnya, arteri spiralis relative mengalami vasokontrksi, dan terjadi kegagalan ”remodeling arteri spiralis”, sehingga aliran darah uteroplasenta menurun, dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Dampak iskemia plasenta akan menimbulkan perubahan-perubahan yang dapat menjelaskan patogenesis hipertensi dalam kehamilan.

Diameter rata-rata arteri spiralis pada hamil normal adalah 500 mikron, sedangkan pada preeklamsi rata-rata 200 mikron. Pada hamil normal vasodilatasi lumen arteri spiralis dapat meningkatkan 10 kali aliran darah ke utero plasenta.

2. Teori Iskemia Plasenta, Radikal Bebas, dan Disfungsi Endotel a. Iskemia plasenta dan pembentukan oksidan / radikal bebas

Sebagaimana dijelaskan pada teori invasi trofoblas, pada hipertensi dalam kehamilan terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis”, dengan akibat plasenta mengalami iskemia. Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan menghasilkan oksidan (disebut juga radikal bebas).

Oksidan atau radikal bebas adalah senyawa penerimaan elektron atau atom/molekul yang mempunyai elektron yang tidak berpasangan.

Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah radikal hidroksil yang sangat toksis, khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Sebenarnya produksi oksidan memang dibutuhkan untuk perlindungan tubuh. Adanya radikal hidroksil dalam darah mungkin dahulu dianggap sebagai bahan toksin yang beredar dalam darah, maka dulu hipertensi dalam kehamilan disebut “ toxaemia ”.

Radikal hidroksil akan merusak membran sel, yang mengandung banyak asam lemak tidak jenuh menjadi peroksida lemak. Peroksida lemak selain akan merusak membran sel, juga akan merusak nukleus, dan protein sel endotel.

b. Peroksida Lemak Sebagai Oksidan Pada Hipertensi Dalam Kehamilan

Pada hipertensi dalam kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan, khususnya peroksida lemak meningkat, sedangkan antioksidan, misalnya vitamin E pada hipertensi dalam kehamilan menurun, sehingga terjadi dominasi kadar oksidan peroksida lemak yang sangat tinggi.

Peroksida lemak sebagai oksidan/radikal bebas yang sangat toksis ini akan beredar di seluruh tubuh dalam aliran darah dan akan merusak membran sel endotel. Membrane sel endotel lebih mudah mengalami kerusakan oleh peroksida lemak, karena letaknya langsung berhubungan dengan aliran darah dan mengandung banyak asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh sangat rentan terhadap oksidan radikal hidroksil, yang akan berubah menjadi peroksida lemak.

c. Disfungsi Sel Endotel

Akibat sel endotel terpapar terhadap peroksida lemak, maka terjadi kerusakan sel endotel, yang kerusakannya dimulai dari membran sel endotel. Kerusakan sel endotel mengakibatkan terganggunya fungsi sel endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel. Keadaan ini disebut “ disfungsi endotel ” (endhothelial dysfunction). Pada waktu terjadi kerusakan sel endotel yang mengakibatkan disfungsi sel endotel, maka akan terjadi :

1.Gangguan metabolisme prostaglandin karena salah satu fungsi sel endotel, adalah memproduksi prostaglandin yaitu menurunnya produksi prostasiklin (PGE2): suatu vasodilator kuat.

2.Agregasi sel sel trombosit pada daerah yang mengalami kerusakan. Agregasi sel trombosit ini adalah untuk menutup tempat tempat di lapisan endotel yang mengalami kerusakan. Agregasi trombosit memproduksi trombosan (TXA2) suatu vasokontriktor kuat. Dalam keadaan normal perbandingan kadar prostasiklin (lebih tinggi vasodilatator). Pada pre eklamsia kadar tromboksan lebih tinggi dari kadar prostasiklin sehingga terjadi vasokonstriksi, dengan terjadi kenaikan tekanan darah.

3.Perubahan khas pada sel endotel kapiler glomerulus (glomerular endhoteliosis ).

4.Peningkatan permeabilitas kapilar.

5.Peningkatan produksi bahan bahan vasopresor, yaitu endotelin. Kadar NO (vasodilatator) menurun, sedangkan endotelin (vasokontriktor ) meningkat.

6.Peningkatan faktor koagulasi.

3.Teori Intoleransi imunologikantara Ibu dan janin

Dugaan bahwa faktor imunologik berperan: terhadap terjadinya hipertensi

dalam kehamilan terbukti dengan f akta sebagai berikut:

1)Primigravida mempunyai resiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan dibandingkan dengan multigravida.

2)Ibu multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai resiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan suami yang sebelumnya.

3)Seks oral mempunyai resiko lebih rendah terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Lamanya periode hubungan seks sampai saat kehamilan ialah makin lama periode ini, makin kecil terjadinya hipertensi dalam kehamilan.

Pada perempuan hamil normal respons imun tidak menolak adanya “hasil

konsepsi” yang bersifat asing. Hal ini disebabkan adanya kuman leokocite antigen protein G (HLA-G) yang berperan penting dalam modulasi respon imun, sehingga ibu tidak menolak hasil konsepsi (plasenta). Adanya HLA-G pada plasenta dapat melindungi trofoblas janin dari lisis oleh sel natural killer (NK) ibu.

Selain itu, adanya HLA-G akan mempermudah sel invasi trofoblas ke dalam jaringan desidua ibu. Jadi HLA-G merupakan pra kondisi untuk terjadinya invasi trofoblas kedalam jaringan desidua ibu, di samping itu untuk menghadapi sel Natural Killer. Pada plasenta hipertensi dalam kehamilan, terjadi penurunan ekspresi HLA-G. Berkurangnya HLA-G di desidua daerah plasenta, menghambat invasi trofoblas ke dalam desidua. Invasi trofoblas sangat penting agar jaringan desidua menjadi lunak, dan gembur sehingga memudahkan terjadinya dilatasi arteri spiralis. HLA-G juga merangsang produksi sitikon, sehingga memudahkan terjadinya reaksi inflamasi. Kemungkinan terjadi Immune Maladoptation pada pre eklamsia.

Pada awal trimester kedua kehamilan perempuan yang mempunyai kecendrungan terjadi pre eklamsia, ternyata mempunyai proporsi Helper sel yang lbih rendah disbanding pada normontensif.

4. Teori Adaptasi Kardiovaskular

Pada hamil normal pembuluh darah refrakter terhadap bahan-bahan vasopresor. Refraktor, berarti pembuluh darah tidak peka terhadap rangsangan bahan vasopresor, atau dibutuhkan kadar vasopresor yang lebih tinggi untuk menimbulkan respon vasokonstriksi.

Pada kehamilan normal terjadinya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor adalah akibat dilindungi adanya sintesis prostaglandin pada sel endotel pembuluh darah. Hal ini dibuktikan bahwa daya refrakter terhadap bahan vasopresor akan hilang bila diberi prostaglandin sistesa inhibitor (bahan yang menghambat produksi prostaglandin). Prostaglandin ini di kemudian hari ternyata adalah prostasiklin.

Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan vasokonstruktor dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan vasopresor. Artinya, daya refraktor pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang, sehingga pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor. Banyak peneliti telah membuktikan bahwa peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor pada hipertensi dalam kehamilan sudah terjadi pada trimester pertama. Penignkatan kepekaan pada kehamilan yang akan menjadi hipertensi dalam kehamilan sudah dapat di temukan pada kehamilan 20 minggu. Fakta ini dapat dipakai sebagai prediksi akan terjadinya hipertensi dalam kehamilan.

5. Teori Genetik

Ada faktor keturunan dan familial dengan model gen tunggal. Genotip ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan secara familial dibandingkan dengan genotype janin. Telah terbukti bahwa pada ibu yang mengalami preeklamsia, 26 % anak perempuannya akan mengalami preeklamsia pula, sedangkan hanya 8% anak menantu mengalami pre eklamsia.

6. Teori Defisiensi Gizi ( Teori Diet )

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kekurangan defisiensi gizi berperan dalam terjadinya hipertensi dalam kehamilan. Penelitian yang penting pernah dilakukan di inggris ialah penelitian tentang pengaruh diet pada pre eklamsia

beberapa waktu sebelum pecahnya perang dunia II. Suasana serba sulit mendapat gizi yang cukup dalam persiapan perang menimbulkan kenaikan insiden hipertensi dalam kehamilan.

Penelitian terakhir membuktikan bahwa konsumsi minyak ikan, termasuk minyak hati halibut, dapat mengurangi risiko pre eklampsia (Prawirohardjo, 2010 ).

2.3. 6 Patofisiologi

Menurut Corwin (2001) : peningkatan kecepatan denyut jantung, peningkatan volume sekuncup/curah jantung yang bermasalah lama, peningkatan tekanan perifer yang berlangsung lama. ( Rukiyah,2010)

Pada hipertensi dalam kehamilan terjadi spasme pembuluh darah disertai retensi garam dan air. Pada biopsi Ginjal ditemukan spasme hebat arteriola glomerulus. Pada beberapa kasus lumen arteriola sedemikian sempitnya sehingga hanya dapat dilalui oleh satu sel darah merah. Jadi semua arteriola dalam tubuh mengalami spasme maka tekanan darah dengan sendirinya akan naik, Sehingga usaha untuk mengatasi kenaikan tekanan darah perifer agar oksigenisasi jaringan dapat dicukupi (Rustam mochtar, 1998).

Sedangkan kenaikan berat badan dan oedema yang disebabkan penimbunan air yang berlebihan dalam ruangan interstinal sebelum diketahui penyebabnya, mungkin karena retensi air dan garam.

2.3.6 Manifestasi Klinis

Gejala yang biasanya muncul pada ibu yang mengalami hipertensi pada kehamilan harus diwaspadai jika ibu mengeluh : Sakit kepala saat terjaga,

kadang-kadang disertai mual, muntah akibat peningkatan tekanan intrakranium, penglihatan kabur, pusing, nokturia, oedema dan pembengkakan. (Rukiyah,2010)

2.3.7Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Hipertensi dalam Kehamilan sebagai berikut:

1.Tirah Baring Modifikasi

Dengan mengistirahatkan diharapkan metabolisme tubuh menurun dan peredaran darah ke plasenta menjadi adekuat, sehingga kebutuhan oksigen untuk janin dapat dipenuhi.

2.Pemantauan Tekanan Darah

Dengan memantau tekanan darah ibu dapat diketahui keadaan aliran darah ke plasenta seperti tekanan darah tinggi, aliran darah ke plasenta berkurang, sehingga suplai oksigen ke janin berkurang.

3.Kunjungan Klinik atau kunjungan rumah harus sering dilakukan untuk pengkajian tekanan darah dan komplikasi lain yang mungkin terjadi.

4.Berikan Edukasi kepada wanita dan keluarganya ketika timbul tanda dan gejala pemburukan hipertensi.

5.Harus biasa mengakses pelayanan medis 24 jam untuk antisipasi hal yang akan terjadi.

6.Ibu tidak boleh memegang tanggung jawab utama atas pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga (Asuhan Kebidanan Varney, Edisi 2,hal 319).

2.3.8Pengobatan Penyakit Hipertensi

Jika seseorang dicurigai Hipertensi, maka dilakukan beberapa pemeriksaan yaitu:

Wawancara (Anamnesa) adakah dalam kelurga yang menderita hipertensi. Dilakukan pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, pengobatan nonfarmakologik, mengurangi berat badan bila terdapat kelebihan (Indeks Masa Tubuh >27), membatasi alkohol dan menghentikan rokok serta mengurangi makanan berkolesterol/lemak jenuh, menghentikan konsumsi kopi yang berlebih, berolahraga ringan (jalan-jalan, jogging pagi), mengurangi asupan natrium. Mempertahankan asupan kalsium dan magnesium adekuat, perbanyak unsur kalium (buah-buahan), tidak banyak fikiran, istirahat yang cukup (Rukiyah, 2010).

2.3.9 Hubungan hipertensi dengan abortus

Hipertensi berhubungan dengan abortus spontan. Ibu yang hiperteni memilki resiko terjadi abortus spontan sebesar 3,609 kali lipat disbanding ibu yang tidak hipertensi.

Hasil ini didukung dengan teori yang menyebutkan bahwa hipertensi mengakibatkan kurang baiknya prognosis pada janin yang disebabkan sirkulasi utero plasenta kurang baik, sehingga janin bertumbuh kurang wajar, dilahirkan kurang matur atau mati dalam kandungan (Winkjosastro 2006).

Ketika kehamilan berlanjut, hipoksia plasenta menginduksi ploriferasi sitotrofoblas dan penebalan membran basalis trofoblas yang mungkin mengganggu fungsi metabolik plasenta.sekresifasodilator protasiklin oleh sel-sel endotelial plasenta berkurang dan sekresi trombosan oleh trombosit bertambah, sehingga timbul vasokonstriksi generalisata dan sekresi aldosteron menurun. Akibat perubahan ini terjadilah pengurangan perfusi plasenta sebanyak 50 persen, hipertensi ibu dan penurunan volume plasma ibu sehingga menyebabkan beberapa komplikasi pada ibu dan janin.

Pada hipertensi sedang tekanan darah pasien teeletak antara 140-170/100-110 yang dikonfirmasi dalam dua kali pemeriksaan berturut setelah istirahat. Jika didapati protein urin (>30 dan <300 mg/dl) kategori ini berubah menjadi hipertensi gravidarum berat. Hipertensi gravidarum berat jika didapatkan tekanan darah pasien melebihi 170/110 dan/atau terdapat proteiuria nyata. Hipertensi gravidarum berat mengenai kira-kira 1% primigravida. Ketika pertama kali diidentifikasi hipertensi selama kehamilan seorang wanita dan dia adalah kurang dari 20 minggu kehamilan, peningkatan tekanan darah biasanya menunjukkan hipertensi kronis. Preeclampsia dimulai pada kehamilan minggu ke-20, sebagai akibat dari hipertensi. Berpengaruh pada ginjal dan pengeluaran protein melalui urin, juga mempengaruhi otak, placenta dan hati (liver).

Pada janin, preeclampsia bisa menyebabkan berat badan lahir rendah, abortus, dan lahir prematur. Berdasarkan penelitian, preeclampsia menjadi penyebab terbesar nomor 2 pada kasus keguguran atau kematian janin.

Gejala-gejala yang ditimbulkan berupa sering pusing, penglihatan yang kabur dan sensitif terhadap sinar, juga proteinuria (protein pada urin) pada pemeriksaan laboratorium.

Edema dapat terjadi pada semua derajad hipertensi gravidarum tetapi mempunyai sedikit nilai diagnostik kecuali jika edemanya generalisata, karena edema sama seringnya dengan edema pada wanita yang tidak mengalami gangguan antenatal.

Penatalaksanaan dalam pemberian perawatan hipertensi gravidarum adalah memungkinkan pertumbuhan janin berlangsung terus hingga cukup maturdan dapat bertahan hidup diluar uterus, atau diperkirakan resiko kematian interna-uteri lebih besar daripada keberadaannya diluar uterus.

BAB III

KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Teori

Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah (Hidayat, 2011).

Menurut Manuaba (2007) dan Sujitiyani (2009) ada beberapa faktor yang dapat menunjang terjadinya abortus, diantaranya adalah umur, paritas, anemia, riwayat kehamilan, jarak kehamilan, penyakit kronis seperti hipertensi dan lain sebagainya.

Anemia

o Umur

o Paritas

Hipertensi

o

Jarak kehamilan

Kejadian Abortus

o

Status gizi

 

oRiwayat Kehamilan

Diteliti

o Tidak diteliti

Gambar 2.1

Pada penelitian ini yang menjadi variabel independent yaitu anemia dan hipertensi sedangkan yang menjadi variabel dependent yaitu Abortus. Adapun kerangka konsep penelitian ini adalah

Variabel Independen

Variabel Dependen

Anemia

b Abortus

Hipertensi

Gambar 2.2

3.2Hipotesa

Ha a : Ada hubungan antara Anemia dengan kejadian abortus di RSUD Dr. M. Zein Painan tahun 2012.

Ha a : Ada hubungan Hipertensi dengan kejadian abortus di RSUD Dr. M. Zein Painan tahun 2012.

3.3 Defenisi Operasional

No

Variabel

 

Defenisi

 

Alat ukur

Cara ukur

 

Hasil ukur

 

Skala ukur

 

 

operasional

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Abortus

terhentinya

proses

Format

Melihat

dan

a.

Abortus bila di

Ordinal

 

 

kehamilan

 

yang

pengumpulan

mencatat

 

 

diagnosa

 

 

 

 

sedang

berlangsung

data

hasil

 

 

 

dokter abortus

 

 

 

sebelum

mencapai

 

dokumentasi

 

 

 

 

 

 

 

umur

 

28

 

minggu

 

di

medical

 

 

 

 

 

 

 

atau

berat

janin

 

record

 

 

 

 

 

 

 

 

sekitar

500 gram

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

pada

 

ibu

yang

 

 

 

 

b.

Tidak abortus

 

 

 

didiagnosa dokter di

 

 

 

 

 

bila didiagnosa

 

 

 

RSUD Dr. M Zein

 

 

 

 

 

dokter tdak

 

 

 

 

Painan tahun 2012

 

 

 

 

 

abortus

 

 

 

2

Anemia

Keadaan

 

kadar

Format

Melihat

dan

1.

Anemia

jika

ordinal

 

 

hemoglobin

 

di

pengumpulan

mencatat

 

 

kadar Hb

<11

 

 

 

bawah 11 gr% pada

data

hasil

 

 

 

gr%

 

 

 

 

 

ibu

di

RSUD

Dr.

 

dokumentasi

2.

Tidak

anemia

 

 

 

M.Zein

 

 

Painan

 

di

medical

 

jika kadar

Hb

 

 

 

tahun 2012

 

 

 

record

 

 

≥11gr%

 

 

3

Hipertensi

Ibu yang

memiliki

Format

Melihat

dan

1.

Hipertensi

jika

ordinal

 

 

tekanan

 

 

darah

pengumpulan

mencatat

 

 

tekanan

darah

 

 

 

dengan

sistole

>

data

hasil

 

 

 

sisitole

>

140

 

 

 

140

dan

 

diastole

 

dokumentasi

 

dan

diastole

 

 

 

>90

yang

dilihat

 

di

medical

 

>90

 

 

 

 

 

dari

data

rekam

 

record

 

2.

Tidak

 

 

 

 

 

medik ibu di RSUD

 

 

 

 

 

hipertensi

jika

 

 

 

DR. M.Zein Painan

 

 

 

 

 

sisitole

≤140

 

 

 

tahun 2012

 

 

 

 

 

 

 

dan

diastole

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

≤90

 

 

 

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis dan Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan survei analitik dengan menggunakan desain cross sectional. Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor- faktor resiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasi atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat atau secara bersamaan (Notoatmojo, 2010). Data yang berkenan dengan variabel dependen yaitu kejadian abortus dan independen yaitu anemia dan hipertensi diambil bersamaan melalui rekam medik.

4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan di RSUD Dr. M. Zein Painan pada bulan April- Mei tahun 2013.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin di RSUD Dr. M. Zein Painan Padang tahun 2012 dari bulan Januari sampai bulan Desember dengan jumlah populasi sebanyak 1095 orang.

4.3.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Sugiyono, 2008). Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu bersalin. Pengambilan

S = ( X NP) (1−P)
d² N−²1 + X2P(1−P)

sampel penelitian ini menggunakan rumus Krejcie dan Morgan (1970) dalam (Effendi,sofian, 2012).

Keterangan :

S : Jumlah anggota sampel

N : Jumlah anggota populasi

P : Proporsi populasi (0,5)

d : Tingkat ketelitian (0,05)

X2: Nilai tabel X2 (3,84)

Berdasarkan rumus diatas, maka sampel yang didapatkan adalah 282 orang. Cara pengambilan sampel yaitu, simple random sampling dengan menggunakan tabel acak.

4.4 Jenis dan cara pengumpulan data

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara menggunakan data sekunder dengan format pengumpulan data yaitu melihat dan mencatat semua catatan rekam medic di RSUD Dr. M. Zein Painan Mengenai Nama, kadar Hb, tekanan darah dan diagnosa yang menyertai serta kejadian abortus pada ibu hamil di RSUD DR. M. Zein Painan pada bulan Januari sampai bulan Desember 2012.

4.5 Teknik pengolahan Data

Pengolaan data dilakukan setelah pengumpulan data dengan maksud agar data yang dikumpulkan memiliki sifat yang jelas. Ada beberapa langkah dalam pengolaan data, yaitu :

4.5.1 Pengecekan Data ( Editing )

Pada penelitian ini data diambil dari medical record Di RSUD DR. M. Zein Painan

tahun 2012, setelah data diperoleh, data di cek atau diperiksa kembali kelengkapannya.

4.5.2Mengkode Data (Coding)

Pada tahapan ini dilakukan pemberian kode untuk mempermudah pada saat analisis

data dan juga mempercepat pada saat entry data. Kode yang digunakan yaitu:

Variabel anemia

 

Jika tidak anemia diberi nilai

: 2

Jika anemia diberi nilai

: 1

Variabel penyakit infeksi

 

Jika tidak infeksi

: 2

Jika infeksi

: 1

Variabel abortus

 

Jika tidak abortus bedasarkan diagnosa dokter

: 2

Jika abortus bedasarkan diagnosa dokter

: 1

4.5.3Proses ( Prosessing)

Memproses data dilakukan dengan cara mengentri data dari format pengumpulan data ke dalam master table.

4.5.4Pembersihan data (Cleaning)

Pembersihan data, merupakan kegiatan pengecekan kembali data dan sudah tidak ada kesalahan.

4.6 Analisa Data

4.6.1Analisis univariat dilakukan untuk melihat gambaran distribusi frekuensi tiap variabel independent yaitu anemia dan hipertensi dalam kehamilan, variabel dependen yaitu kejadian Abortus. Analisis ini disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

4.6.2Analisis Bivariat

Untuk melihat hubungan antara variabel independent dengan variabel dependent yang disajikan dalam bentuk tabel silang, dilanjutkan dengan uji statistik chi-square, dengan kemaknaan 95 %. Apabila p<α, maka ada hubungan antara variabel independen dengan variabel dependent.

Cara membaca hasil uji statistik dengan menggunakan komputer, yaitu sebagai berikut:

a.Bila tabel 2x2 dijumpai nilai E < 5 maka hasil yang dibaca adalah fisher Exact

b.Bila pada tebel 2x2 dan tidak ada nilai E atau < 5 maka hasil yang dibaca adalah continiuty corection

c.Bila tabelnya lebih 2x2 misalnya 3x2, 3x3, dan lain-lain maka hasil yang dibaca adalah pearson Chi-square.

Hasil analisa dinyatakan bermakna apabila nilai p value = 0,05 dengan kriteria:

a.Ha diterima jika p value ≤ 0,05 berarti ada hubungan yang bermakna

b.Ha ditolak jika p value > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna

DAFTAR PUSTAKA

Effendi, sofian.2012.Metode penelitian survey.Jakarta: LP3ES

Laporan Perkembangan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium

Indonesia.2011.Jakarta: Depkes RI

Manuaba, dkk. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : EGC

Notoadmodjo S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka

Nukroho, taufan. 2011. Buku ajar obsetrik untuk mahasiswa. Jogjakarta: Nuha Medika.

PROFIl Kesehatan Indonesia. 2007

PROFIL Kesehatan Sumatra Barat. 2008 dikutip dari http://dinkeskotapadang 1.worspress.com/profil-kesehatan/profil-tahun-2008-edisi-2009. Diakses tanggal 12 januari 2013

Proverari, atikah. 2011. Anemia dan am\nemia dalam kehamilan. Jogjakarta : Nuha Medika

Prawirohardjo,Sarwono,dkk.2008.Ilmu Kebidanan.Jakarta: EGC

____________,2009. Ilmu Kebidanan.Jakarta: EGC

Rukiyah,Yeyeh ai.dkk.2011.Asuhan kebidanan empat (patologi).Jakarta:Trans Info Media

Sulaiman, sastrawinata. 2005. Obstetric Patologi. Bandung : UNPAD

Sulaiman, sastrawinata. 2005. Obstetric Patologi. Bandung : UNPAD

Tempo, 2007. Penyebab Kematian Ibu. Diakses dari http://kesehatan.kompas.com/read/2010/01/30/07464890/penyebab.kematian.ibu.

Saifuddin, Abdul Bari. Dkk. 2010. Buku Panduan Praktis Pelayanan kesehatan Maternal Dan Neonatal. Jakarta : PT BINA SARWONO PRAWIROHARDJO

Sujiyatini,dkk.2009.Asuhan patologi kebidanan.Yogyakarta: Nuha Medika

Sulaiman, sastrawinata. 2005. Obstetric Patologi. Bandung : UNPAD

WHO. Dikutip dari www.ilmukesehatan.com?artikel/data-who-tentang aki-dan-akb-2011. diakses tanggal 10 januari 2013

Lampiran 1

PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN

NO

 

URAIAN

BIAYA (RUPIAH)

A

Persiapan

 

 

1

Pengurusan perizinan ke PEMKO

1.000.000

2

Biaya survay awal

 

100.000

3

Pengadaan Buku Literatur

500.000

4

Kertas HVS

5 rim x Rp 40,000

200.000

5

Tinta Printer

2 botol x Rp180,000

360.000

6

Ballpoint

20 buah x Rp 3000

60.000

7

Pensil

20 buah x Rp 2000

40.000

8

Spidol

20 buah x Rp 5000

100.000

B

Pengadaan instrumen penelitian

 

9

Quisioner penelitian 300 rangkap @Rp. 5.000

1.500.000

C

Pengumpulan/pengolahan data

 

 

Konsumsi dan akomodasi 2 orgxRp.50,000x30

 

10

hari

 

3.000.000

11

Pengolahan Data

 

1.000.000

12

Penggandaan hasil penelitian 10 eksxRp.10.000

100.000

13

Biaya Penjilidan

10 eks x Rp 10,000

100.000

14

Pemindahan proposal dalam bentuk softdisk

500.000

D

Biaya Seminar

 

1.000.000

E

Biaya Internal PT

 

2.500.000

 

JUMLAH

 

12.060.000

Lampiran 2.Susunan Organisasi Tim Peneliti Dan Pembagian Tugas

No

Nama

NIDN

Bidang

Alokasi

Uraian tugas

 

 

 

ilmu

waktu

 

 

 

 

 

(jam/ming

 

 

 

 

 

gu)

 

1

Welliyarti, S.Pd

1017126601

Kesehatan

2 jam 3 x

Melaksanakan

 

 

 

 

seminggu

proposal

 

 

 

 

 

penelitian,men

 

 

 

 

 

gkoordinir

 

 

 

 

 

pelaksanaan

 

 

 

 

 

penelitian,men

 

 

 

 

 

gevaluasi

 

 

 

 

 

pelaksanaan

 

 

 

 

 

penelitian

 

 

 

 

 

 

2

Ns. Novriani

1017126601

Kesehatan

2 jam 3 x

Melaksanakan

 

Husna, S.Kep

 

 

seminggu

proposal

 

 

 

 

 

penelitian,men

 

 

 

 

 

gkoordinir

 

 

 

 

 

pelaksanaan

 

 

 

 

 

penelitian,men

 

 

 

 

 

gevaluasi

 

 

 

 

 

pelaksanaan

 

 

 

 

 

penelitian

 

 

 

 

 

 

2

Ns. Winda Resvi

 

Kesehatan

2 jam

Melaksanakan

 

Juliana, S.Kep

 

 

3 x

proposal

 

 

 

 

seminggu

penelitian,mela

 

 

 

 

 

kukan

 

 

 

 

 

penelitian

Lampiran 3 . Ketersediaan Sarana dan Prasarana Penelitian

Sarana yang di gunakan adalah :

Rumah Sakit

Status Pasien / rekam medik

Instrument Yang Digunakan Pada Peneliti Ini Adalah :

Kuisioner

Format pengumpulan data

Pena

Kertas

Lampiran 4

 

CV KETUA PENELITI

Nama

: Welliyarti, S.Pd

Tempat / Tgl Lahir

: Padang, 17 Desember 1966

Pekerjaan

: STAFF DOSEN NAN TONGGA LUBUK ALUNG

Status :

: Kawin

Riwayat Pendidikan:

1.

SDN 37 Padang

:

Tamat tahun 1980

2.

SKKPN

:

Tamat tahun 1983

3.

SMMKN Padang

:

Tamat tahun 1986

4.

STKIP PGRI Sumbar

:

Tamat tahun 1992

Mata kuliah yang diampu:

1.Psikologi

2.Promkes

3.Sosiologi

 

CV ANGGOTA PENELITI

Nama

: Ns. Winda Resvi Juliana ,S.Kep

Tempat / Tgl Lahir

: Salido, 14 Juli 1988

Pekerjaan

: STAFF DOSEN NAN TONGGA LUBUK ALUNG

Status :

: Belum Kawin

Riwayat Pendidikan:

1.

SD Negeri 08 Pasar Salido

:

Tamat tahun 2000

2.

SLTP Negeri 1 Painan

:

Tamat tahun 2003

3.

SMA Negeri 1 Painan

:

Tamat tahun 2006

4.

STIKes MERCUBAKTIJAYA Padang,

: Tamat tahun 2011

Mata kuliah yang diampu:

1.KDK

2.KEPERAWATAN DEWASA

3.KEPERAWATAN MATERNITAS

 

CV ANGGOTA PENELITI

Nama

: Ns. Novriani Husna, S.Kep

Tempat / Tgl Lahir

: Batang Silasih, 14 Agustus 1984

Pekerjaan

: STAFF DOSEN NAN TONGGA LUBUK ALUNG

Status :

: Kawin

Riwayat Pendidikan:

1.

SDN 23 Purus Padang

:

Tamat tahun 1999

2.

SMPN 7 Padang

:

Tamat tahun 2002

3.

SMAN 7 padang

:

Tamat tahun 2005

4.

STIKes Ceria Buana

:

Tamat tahun 2011

Mata kuliah yang diampu:

1.Kep Anak

2.Kep Maternitas

3.Kep Dewasa

Lampiran 5

JADWAL

PELAKSANAAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BULAN

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

N

KEGIATAN

 

 

JANUARI

 

 

 

 

FEBRUARI

 

 

 

MARET

 

 

 

 

 

APRIL

 

 

 

 

 

 

MEI

 

 

 

 

 

JUNI

 

 

 

 

 

JULI

 

 

AGUSTUS

 

O

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

 

M

M

M

M

M

M

M

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

 

g

g

g

g

g

g

g

 

 

1

2

3

4

1

 

2

3

 

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

 

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

1

2

3

4

 

Perumusan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Masalah

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pertemuan Tim

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

dan Anggota

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menetapkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rencana Jadwal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Kerja

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menetapkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Desain Penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menetapkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Instrumen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

Survey Awal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembuatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

8

Konsultasi Ahli

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menetapkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Instrumen

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

9

Penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Menyusun Format

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Pengumpulan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

0

Data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Pengiriman

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Uji Coba

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2

Quesioner

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Persiapan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

3

Seminar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Seminar Proposal

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

4

Penelitian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Melakukan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengumpulan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5

Data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

6

Mengolah Data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

Menyusun Konsep

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

7

Laporan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

1

8 Konsultasi Ahli

1 Menyusun

9 Laporan Akhir

2 Menyusun Bahan

0 Untuk Seminar

2 Penyelenggaraan

1Seminar

2Penggandaan

2 Laporan

2Pengiriman

3Laporan