Share PDF

Search documents:
  Report this document  
    Download as PDF   
      Share on Facebook

Asal Usul Desa Paciran

Seringkali kita mendengar kata “legenda”. Kata tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita, karena sejak kecil kita sudah diperkenalkan oleh para guru, maupun orang tua. Karena masyarakat Indonesia, khususnya para anak kecil di Indonesia sangat menyukai cerita-cerita rakyat. Tidak bisa dipungkiri, bahwa cerita rakyat sangat menarik, selain itu bahasanya juga mudah di pehami. Apabila kenyataannya demikian, apakah kita sudah mengetahui definisi legenda? Mari kita tengok definisi dan pemahaman singkat mengenai legenda. Menurut James Danandjaya dalam sebuah bukunya yang berjudul “Folklor Indonesia; 1982”, mengatakan bahwa legenda adalah cerita prosa rakyat, yang dianggap oleh yang empunya cerita sebagai suatu kejadian yan sungguh-sungguh pernah terjadi. Legenda bersifat sekuler (keduniawian), terjadinya pada masa yang belum begitu lampau, dan bertempat di dunia seperti yang kita kenal sekarang. Legenda seringkali dipandang sebagai “sejarah” kolektif (folk history), walaupun “sejarah” itu karena tidak tertulis telah mengalami distorsi, sehingga seringkali dapat jauh berbeda dengan kisah aslinya. Oleh karenanya, jika kita hendak mempergunakan legenda sebagai bahan untuk merekonstruksi sejarah suatu folk, kita harus membersihkannya dahulu bagian-bagiannya yang mengandung sifat-sifat folklor, misalnya yang bersifat pralogis atau yang merupakan rumus-rumus tradisi lisan, seperti yang pernah ditemukan oleh Lord Ragland (1965: 150).

Legenda biasanya bersifat migratoris, yakni dapat berpindah-pindah, sehingga dikenal luas di daerah-daerah yang berbeda. Selain itu, legenda acapkali tersebar dalam bentuk pengelompokan yang disebut siklus, yaitu sekelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau suatu kejadian tertentu. Jumlah legenda di setiap kebudayaan relative banyak, karena tipe dasar legenda tidak terbatas. Terutama legenda setempat yang jauh lebih banyak jika dibandingkan dengan legenda yang dapat mengembara dari satu daerah ke daerah yang lain. Legenda dapat tercipta yang baru, apabila seorang tokoh, tempat, atau kejadian dianggap berharga oleh kolektifnya untuk diabadikan menjadi legenda. Sudah tentu hal itu tidak berarti bahwa pada legenda tidak ada pola-pola tradisional. Jan Harold menggolongkan legenda menjadi empat, antara lain: 1. legenda keagamaan, 2. legenda alam gaib, 3. legenda perorangan, 4. legenda setempat. Legenda setempat adalah cerita yang berhubungan dengan suatu tempat, nama tempat, dan bentuk cerita topografi, yakni bentuk permukaan suatu daerah, apakah berbukit-bukit, berjurang, dan sebagainya.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat kita simpulkan bahwa legenda itu termasuk folklor dimana dalam pewarisan ceritanya tidak melalui tertulis, akan tetapi melalui lisan. Akan lebih tepatnya, legenda merupakan salah satu bagian dari folklor lisan. Pada jurnal ini, penulis akan membahas mengenai asal usul desa Paciran yang mana termasuk dalam

legenda setempat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis, ditemukan berbagai versi cerita dari awal mula diberikannya nama Paciran. Akan tetapi dari berbagai versi cerita tersebut, inti dan akhir dari cerita itu sama. Hanya saja ada bumbu-bumbu yang ditambahkan pada cerita itu. Tidak bisa dihindari lagi hal tersebut, karena pewarisan cerita “asal usul desa Paciran” itu diturunkan secara lisan. Oleh karena itu, pasti ada potongan cerita yang hilang sehingga ditambahi dengan cerita yang bisa lebih menarik para pendengar.

Versi yang pertama yaitu pada zaman dahulu kala, ada seorang ulama’ yang berasal dari keturunan timur tengah yakni Raden Nur Rahmat. Beliau termasuk salah satu penyebar agama Islam di daerah pantura. Dalam usahanya, dia berkeinginan mendirikan tempat untuk pengajaran dan pendidikan serta penyebaran agama Islam. Maka, dia berkeinginan mendirikan pembangunan pendidikan tersebut. Mula-mula, sebuah bangunan atau surau yang semula terletak di daerah Demak Bintoro hendak di pindah di sebuah tempat yang jauh untuk dijadikan pusat pendidikan dan pengajaran, serta penyebaran agama Islam. Dengan izin Allah, ulama’ tersebut mampu memindahkan bangunan tersebut ke tempat lain. Tetapi sayang, dalam perjalanan pemindahan telah terjatuh salah satu dalam bahasa Jawa telah jatuh sebuah pintu bangunan atau dalam bahasa Jawa yang disebut “cicir” dan akhirnya tempat jatuhnya benda tersebut dijadikan nama sebuah desa yang bernama “Paciran”.

Bangunan tersebut sampailah pada sebuah tempat yang di kehendaki Allah yang dikenal dengan nama Sendang Duwur. Disana, selain terdapat sebuah bangunan tempat penyebaran agama Islam, juga terdapat satu buah sumur yang yang langka dan jarang dijumpai di daerah manapun. Karena untuk mendapatkan air di dalam sumur, biasanya ditimba dengan menggunakan tangan. Tetapi untuk pengambilan air di dalam sumur tersebut, harus dengan cara menggiling tali yang diputar dengan kaki. Oleh masyarakat disekitarnya, sumur tersebut diberi nama Sumur Giling. Menurut masyarakat sekitar, air sumur giling mampu dijadikan obat untuk mengobati penyakit tertentu, dan lain-lainnya. Pencipta atau penggali sumur tersebut adalah Sunan Sendang (Sunan Raden Rahmat).

Versi yang kedua yaitu pada zaman dahulu, Raden Nur Rahmat berkunjung ke kediaman Nyai Ageng Tirtayasa di Rembang, Jawa Tengah. Setibanya disana, beliau melihat musholla milik Nyai. Raden Rahmat berniat untuk membelinya, akan tetapi Nyai ajeng menolak musholla itu untuk dibeli. Beliau memberbolehkan Raden Rahmat untuk memiliki musholla tersebut, akan tetapi tidak dengan membelinya, melainkan dengan membawa musholla itu sendiri ke kediamannya tanpa bantuan dari siapapun. Mendengar jawaban Nyai Ageng, Raden Rahmat kebingungan dan beliau kembali pulang.

Di tengah perjalanan, beliau teringat pada salah satu guru besar yang tinggal di desa Sedayu lawas, tepatnya di Puncak Gunung Menjulok. Beliau berfikir untuk berguru disana dengan maksud mendapatkan ilmu Kadidjayaan dari sang guru supaya beliau bisa membawa musholla dari Rembang ke Sendang agung seorang diri. Melihat i’tikad Raden Rahmat, sang guru dengan baik hati bersedia mengajari Raden Rahmat sebuah ilmu dengan ketentuan beliau menghadap Nyai Ajeng Tirtayasa dan menegaskan kembali tawaran untuk memboyong musholla. Apabila Nyai Ageng tetap menyuruh mengangkat sendiri, maka jawab dengan tegas bahwa beliau siap sambil menghentakkan kaki kanan tiga kali ke tanah. Insya Allah keinginan tersebut akan terlaksana.

Setelah menemui Nyai Ageng, Raden Rahmat langsung menghentakkan kakinya tiga kali. Pada waktu itu juga musholla beserta Raden Rahmat terbang ke angkasa. Dalam perjalanannya, beliau beristirahat sejenak di gunung Punden, Sentono Kulon. Menjelang adzan awal, ada seorang ibu rumah tangga yang menepuk-nepuk boran dengan entong yang akan dipakau untuk memasak beras. Ketika mendengar suara tersebut, Raden Rahmat bergegas melanjutkan kembali perjalanannya karena dikira diusir oleh ibu tadi. Ditengah perjalanannya, beliau melewati pohon beringin yang terletak di dusun Penanjan. Disanalah pintu musholla yang dibawa oleh Raden Rahmat jatuh. Namun, Raden Rahmat tetap melanjutkan perjalanannya menuju Sendang Agung.

Mendengar jatuhnya pintu yang tidak wajar, penduduk pun ramai membicarakannya. Mereka banyak terucap kata “cicir” yang artinya jatuh. Hingga akhirnya disepakati bahwa desa tersebut diberi nama “Paciran”, yang berarti keciciran lawang.

Versi cerita yang ketiga adalah langsung dihubungkan dengan desa Sendang Duwur. Pada mulanya, ada seorang tokoh di Sendang Duwur yang bernama Raden Nur Rahmat. Beliau berasal dari desa Sedayu Lawas, kecamatan Brondong. Akan tetapi setelah kematian ayahnya, beliau berpindah ke dusun Tenon guna menyebarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut. Akhirnya Raden Rahmat mendapatkan gelar Sunan Sendang. Setelah mendapat gelar tersebut, Sunan Sendang diperintahkan oleh Sunan Drajad mendirikan masjid dan pergi ke Mantingan, Jepara, Jawa Tengah untuk menemui Mbok Randa Mantingan (Nyai Ratu Kalinyamat) untuk membeli pendapanya seharga seyuto salebak ketheng. Akan tetapi, Mbok Randa Mantingan tidak mau dibeli dengan uang melainkan dengan syarat Raden Nur Rahmad harus berpuasa 41 hari tidak tidur tidak makan dan tanpa bernafas. Akhirnya setelah selesai puasa, atas izin Allah Raden Nur Rahmad mengangkat masjid tersebut dari Jepara menuju Sendang Duwur. Sewaktu diperjalanan yang sudah mendekati Sendang Duwur, pintu masjid itu terjatuh di sebuah desa yang saat ini dinamakan desa Paciran. Orang-orang Paciran menyimpan pintu tersebut hingga saat ini.

Dari ketiga versi diatas, dapat kita ketahui beberapa persamaan antar cerita. Yang pertama yaitu tokoh utama dalam cerita tersebut, yaitu Raden Nur Rahmat (Sunan Sendang). Persamaan yang kedua adalah keinginan sang Sunan Sendang untuk memindah masjid menuju Sendang Duwur. Persamaan yang terakhir yaitu pemberian nama Paciran yang disebabkan karena jatuhnya pintu masjid atau musholla yang dibawa oleh Sunan Sendang.

Legenda “asal usul desa Paciran” ini secara tidak langsung berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat di Paciran. Bagaimana tidak? Sebelum diberikan nama Paciran, desa tersebut merupakan salah satu desa yang sangat agraris dan subur dalam hal pertaniannya. Adapun budaya masyarakat agraris sangat kental kejawennya. Oleh sebab itu, mereka sangat percaya terhadap nenek moyang mereka. Adapun kepercayaan yang dianutnya adalah animism dan dinamisme. Akan tetapi, setelah ada kejadian tersebut sehingga muncullah seorang tokoh agama yang bernama Raden Nur Rahmat yang sedikit banyak mempengaruhi keyakinan masyarakat Paciran. Setelah kejadian jatuhnya pintu, masyarakat mulai tertarik dan mencari tahu dari mana jatuhnya pintu tersebut. Lama kelamaan mereka akhirnya mengetahui tentang jatuhnya pintu tersebut hingga mengenal Sunan Sendang. Pada akhirnya mereka mulai tertarik dengan ajaran yang dibawa oleh Sunan Sendang. Dengan demikian, Islam mulai masuk di desa Paciran. Agama Islam mudah diterima oleh masyarakat dikarenakan budaya-budaya yang ada pada waktu itu dilanjutkan oleh para penyebar agama Islam. Yang dirubah hanya keyakinanya. Salah satu contohnya, orang- orang hindu budha suka dengan selamatan atau perkumpulan yang tujuannya untuk meminta kepada pohon-pohon besar, tempat-tempat keramat, dan sebagainya. Akan tetapi, oleh para penyebar agama Islam terutama Sunan Sendang dan Sunan Drajat merubah keyakinan masyarakat bahwa mereka meengadakan selamatan dengan tujuan untuk memohon kepada Allah, bukan kepada makhluk Allah. Sehingga dengan pesat keyakinan masyarakat sekitar berubah. Apabila tidak ada kejadian jatuhnya pintu di desa Paciran, masyarakat Paciran tidak akan mengenal agama Islam dan mempercayai adanya Wali.